Waktu itu, di 2001, ada pesan masuk ke handphone saya. Dari kenalan yang berkecimpung di duna sepak bola. Isinya, mengabarkan bahwa seorang pemain tim nasional asal Kabupaten Kediri pulang kampung. Nama pemain itu Budi Sudarsono.
Sebagai jurnalis olahraga, yang kebetulan juga penikmat olahraga paling popular sejagad ini, tentu saya tahu betul nama itu. Mendengar nama Bud Sudarsono, yang tersirat di benak adalah sosok pemain muda fenomenal yang berjuluk Si Phyton. Gayanya yang meliuk-liuk kala menggiring bola melewati hadangan lawan adalah sumber sebutan itu.
Tanpa berpikir lama, saya tenteng ransel berisi peralatan ‘perang’. Isinya kamera single lens reflect (SLR) yang belum digital tentu saja. Mereknya Tamron. Lengkap dengan lensa panjangnya, zoom 80-200 mm. Kamera ini punya sejarah penting. Karena menjadi kamera yang menghasilkan foto juara dunia berjudul suporter tumpah. Yang motret tentu saja bukan saya, melainkan pemilik pertama kamera itu, wartawan Jawa Pos bernama Sholihuddin yang kemudian jadi bos saya di JP Radar Kediri.
Eh, tutup dulu cerita tentang kamera. Kembali ke alur utama, tentang Budi Sudarsono. Singkat cerita sampailah saya di rumah sangat sederhana di Desa Ngino, satu desa di Kecamatan Plemahan. Rumah ini berukuran kecil. Berada persis di tepi sungai. Di depannya, di seberang jalan, ada pekuburan desa. Saat itu, ayah Budi sekaligus juru kunci makam tersebut.
Yang menerima saya pertama kali adalah orang tua Budi. Ayah dan ibunya. Postur sang ayah kecil. Sementara sang ibu kebalikan dari suaminya. Tubuhnya lebih berisi. Nama pasangan itu adalah Syaifullah dan Muwarni.
Yang menarik, yang paling banyak bercerita adalah Muwarni, sang ibu. Dia ibarat kamera bernyawa bagi perjalanan hidup seorang Budi Sudarsono. Termasuk bagaimana awal perkenalan Budi dengan sepak bola profesional. Baik ketika di Persebaya Surabaya maupun di Persija Jakarta.
Memang, berbeda dengan Musikan yang mengawali karir bolanya di Kediri, Budigol-julukannya yang lain-justru memulai karir lapangan hijaunya di klub luar Kediri. Persebaya, Persija, hingga Deltras Sidoarjo. Baru pada 2005 Si Phyton berlabuh di Persik Kediri. Beberapa tahun setelah Macan Putih meraih gelar Ligina pertama kalinya.
Meskipun demikian, Sosok Budi layak disebut local hero. Sepak terjangnya mampu mengharumkan nama Kediri. Bahkan ketika belum ada klub Kediri yang moncer di kala nama Budi menasional di awal 2000-an. Apalagi, sumbangsih Budigol juga tak boleh dipandang sebelah mata dalam perjalanan Persik meraih juara liga untuk kedua kalinya.
Seperti halnya Musikan, Budigol adalah produk dari kehidupan sederhana di salah satu desa di pelosok Kabupaten Kediri. Talenta sepak bolanya terasah dari pergumulannya dengan klub-klub desa. Sebelum akhirnya tercium oleh pemantau bakat salah satu klub anggota Persebaya.
Budi juga produk kesederhanaan, ketekunan, dan keuletan. Budi juga sosok pemain yang memiliki idealisme, baik dalam keseharian maupun dalam berkarir sepak bola. Sepanjang yang saya tahu, sosok Budi juga seorang pemain yang tekun dan taat dalam menjalankan agamanya. Suatu hal yang langka pada saat itu. Biasanya, seorang pemain selalu terlibat dalam kehidupan glamor yang muncul karena melimpahnya gaji dan bonus.
Pernah suatu saat, saya dan Budi berada pada satu penerbangan yang sama. Tujuannya saat itu adalah ke Jayapura. Tempat berlangsungnya babak 8 besar liga. Pesawat harus transit beberapa jam di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Saat transit itu, Budi memilih tetap berada di ruang tunggu bandara. Sementara pemain lain memilih menghabiskan malam di pantai terkenal di Pulau Dewata itu. Budi, bersama segelintir pemain lain memilih ngobrol tentang hal-hal berbau keagamaan.
Soal integritas dan kekuatan mental ini memang menjadi satu hal yang penting untuk mencetak local-local hero lainnya dari Kediri. Bakat saja tak cukup untuk memunculkan seseorang menjadi bintang yang benar-benar berumur panjang. Sejarah sudah mencatat, Persik juga beberapa kali menciptakan talenta-talenta lokal yang luar basa. Sayang, umur prestasi mereka tak panjang. Ketika bertemu dengan keglamoran hidup seorang bintang sepak bola, kemampuan mereka pun jadi redup.
Berbeda sekali dengan panjangnya jalan seorang Budi. Sejak merintis karir profesional pada 1999 hingga dia pensiun pada medio 2018-an, prestasinya berjalan mulus. Bahkan terus meningkat hingga usia produktifnya mentok. Klub-klub besar sudah dia hinggapi. Persebaya, Persija, Deltras, Persik, Persib, dan Sriwijaya FC. Juga, ada catatan karirnya di klub Malaysia, Police Diraja Malaysia (PDRM).
Karena itu, menjadi tugas insan sepak bola Kediri, terutama di SSB-SSB, agar mampu mencetak talenta sepak bola yang lengkap. Yang memiliki integritas dan kekuatan mental yang tangguh. Yang fokusnya adalah pada sepak bola an-sich. Yang tak gampang terombang-ambing glamornya kehidupan yang tak ada kaitannya dengan prestasi di lapangan hijau. (*)
Editor : adi nugroho