Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

- Teplekan -

adi nugroho • Senin, 9 Agustus 2021 | 17:31 WIB
teplekan
teplekan

 Menyumbangkan uang secara spontan dan sukarela, untuk digunakan membantu korban yang terdampak covid-19. Inilah arti dari teplekan, sebuah gerakan sosial yang digagas oleh Plt (pelaksana tugas) Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi akhir Juli lalu. Dalam kegiatan teplekan itu, Marhaen menyumbangkan gaji dan tunjangannya sebulan.


          Gerakan ini pun gethok tular ke jajaran Forkopimda Nganjuk. Mulai dari kapolres, dandim, kepala pengadilan, kepala kejaksaan dan seterusnya. Bahkan, beberapa komunitas di Nganjuk juga ikut dalam teplekan.


Tak sampai sepekan gerakan ini dilaksanakan, sudah terkumpul ratusan juta rupiah. Menurut rencana, uang yang terkumpul akan disalurkan membantu masyarakat Nganjuk yang terdampak covid-19. Mulai dari pemberian sembako, obat-obatan bagi warga yang terkena covid-19, hingga keperluan lainnya yang dibutuhkan.


          Inisiasi dari Plt Bupati Nganjuk ini patut diapresiasi. Ini sama halnya dengan mencari alternatif lain dalam menangani covid-19. Setidaknya ada dua manfaat dari teplekan ini. Pertama, kegiatan ini konkret. Dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat yang terkena atau terdampak covid-19. Kedua, dalam jangka panjang, kegiatan ini bisa menjadi penjaga bagi jiwa solidaritas dan jiwa gotong royong masyarakat dalam membantu sesama.


          Manusia itu sejatinya punya jiwa solidaritas dan jiwa gotong royong dalam membantu sesama. Tapi, jiwa gotong royong ini perlu terus dijaga dan ditumbuhkan. Sebab, jika tidak, akan tergerus dengan penyakit-penyakit hati yang termanifestasikan pada tindakan egois, pragmatis, dan individualis. Nah, gerakan teplekan inilah yang dalam jangka panjang, bisa menjaga jiwa solidaritas dan jiwa gotong royong tersebut.


          Gerakan yang senada dengan teplekan juga pernah digalang oleh Uni Eropa tahun lalu. Melalui sebuah acara yang diadakan secara virtual dan dipimpin oleh Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, para pemimpin dunia, para selebritis, dan juga para filantropis dunia mengumpulkan dana untuk menangani covid-19. Dan dalam waktu singkat bisa mengumpulkan dana sebesar 7,4 miliar Euro. Dan itu akan digunakan untuk membantu membiayai penelitian vaksin, pengobatan dan test covid-19.


          Saya membayangkan, seandainya gerakan seperti teplekan ini dilakukan secara massive dan menyeluruh di Indonesia, semua unsur di dalam penyelenggara negara, mulai dari pusat hingga desa, semua unsur dalam masyarakat, cancut tali wondho-kolobis kuntul baris  untuk menggalang dana, maka saya yakin dampaknya akan dahsyat. Selanjutnya, dana yang terkumpul itu harus dikelola secara transparan, kalau perlu diawasi tim independen yang terdiri dari orang-orang yang berintegritas, lalu disalurkan untuk mengatasi berbagai problem terkait dengan pandemi covid-19.


          Harus diakui, hingga kini kita masih belepotan dan tergagap-gagap dalam menangani problem-problem terkait covid-19. Mulai dari problem pendataan jumlah pasien yang terpapar dan yang dirawat di rumah sakit, problem ketersediaan rumah sakit, problem kelangkaan obat dan oksigen, dan problem pemberian vaksin. Berbagai problem itu masih cukup sering kita saksikan dalam setiap pemberitaan.


          Sayangnya, hingga kini kita masih sering dijangkiti “penyakit” ego sektoral. Ketika ada ide yang baik, tidak bisa langsung dilaksanakan. Karena ide itu seakan harus di-screening dulu.  Dari siapa ide itu? Partai-nya apa? Golongannya apa? Mengapa saya harus melaksanakan ide itu? Seperti ini kira-kira bentuk pertanyaan screening-nya.


          Ketika Uni Eropa menggagas penggalangan dana untuk covid 19 tahun lalu, 40 negara ikut serta berpartisipasi, termasuk PBB. Tapi, Amerika Serikat tidak ikut, waktu itu presidennya masih Donald Trump. Bahkan muncul kesan, Trump memboikot kegiatan penggalangan dana yang digagas Uni Eropa itu. Inilah yang saya sebut ego sektoral.


          Disadari atau tidak, pelaksanaan otonomi daerah, telah membuat penyakit “ego sektoral” bisa muncul sewaktu-waktu dengan mudahnya. Makanya, ketika di Nganjuk digagas teplekan yang intinya adalah membangun solidaritas bersama, maka belum tentu kegiatan yang baik ini bisa dilaksanakan juga di daerah lain. Mungkin juga akan berlaku sebaliknya, ketika di daerah lain ada gagasan yang baik, maka belum tentu juga Nganjuk akan mengikutinya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran: ibnuisrofam@gmail.com /IG:kum_jp)


 


 


 

Editor : adi nugroho
#kurniawan muhammad #kum #nganjuk