Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional Seni & Budaya

Sebungkus Oreo

adi nugroho • Senin, 18 Mei 2020 - 11:55 WIB
sebungkus-oreo
sebungkus-oreo

 


I have a pen, I have an apple// Uh// Apple Pen


I have a pen, I have pineapple// Uh// Pineapple Pen


Masih ingat lirik lagu itu? PPAP. Pen Pineapple Apple Pen. Lebih dari tiga tahun lalu. Pikotaro. Penyanyi sekaligus komedian asal Jepang. Gayanya yang kocak segera melambungkan video plus lagunya.


Padahal, apalah arti lirik lagunya itu. Pen. Pineapple. Apple. Pena. Nanas. Apel. Diulang-ulang. Nanas ditusuk pena. Pena menusuk apel. Sambil berjoget-joget.


Tapi, orang ramai-ramai menirunya. Sedunia. Meski itu hanya sebentar. Sebab, popularitas di zaman digital tak pernah berusia lama. Cepat naiknya, cepat pula turunnya.


Pikir, apa istimewanya orang punya pena? Apa pula hebatnya orang punya apel dan nanas? Tapi, cobalah ganti lirik itu dengan yang sedang menjadi tren sekarang.


I have Oreo, I have a Supreme// Uh// Oreo Supreme.


Memiliki barang itu, Anda bisa mendadak merasa naik kelas sosial. Berlapis-lapis ke atas. Di tengah lingkungan sekitar yang sedang terjerembab oleh pandemi korona. Betapa tidak, untuk mendapatkan sebungkus biskuit bikinan Amerika yang juga sedang kalangkabut oleh virus tak kasat mata itu, Anda harus merogoh kocek hingga Rp 500 ribu. Bahkan lebih. Padahal, isinya tak lebih dari tiga biji!


Oreo, kita tahu, adalah biskuit bikinan Nabisco, perusahaan asal Negeri Paman Sam. Publik di sini mengenalnya lewat iklan yang begitu terkenal waktu itu: “Diputar, dijilat, dicelupin.” Sedangkan Supreme adalah merek streetwear, juga asal negeri Paman Donald (Trump) itu.


Lalu, apa hubungan biskuit dengan pakaian? Kemudaan, barangkali. Kesegaran. Karena dua-duanya adalah merek yang menyasar anak muda. Betapa “diputar, dijilat, dicelupin” adalah iklan yang menampilkan bintang yang bahkan masih anak-anak? Sementara Supreme jelas menyasar anak muda dengan budaya hiphopnya di Amerika.


Kemudaan, kesegaran bertemu dalam sebungkus biskuit. Dengan kemasan yang berbeda. Merah. Khas Supreme. Bukan cuma bungkusnya. Tapi, juga biskuitnya sendiri. Dengan lapisan krim putih di tengah yang tetap dipertahankan sebagai identitas ke-‘Oreo’-annya agar tetap bisa ‘diputar, dijilat, dicelupin’.


I have Oreo, I have a Supreme// Uh// Oreo Supreme.


Apa yang akan Anda lakukan jika memilikinya? Memakannya? Sebiji biskuit yang harganya hampir Rp 200 ribu! Bisa jadi, sebungkus Oreo Supreme itu membuat kita tak sampai hati menyobeknya. Melainkan hanya akan membawanya ke mana-mana. Dalam tas. Sambil sesekali menunjukkan bahwa kita mampu membelinya. Demi identitas.


Dan kenikmatan yang ditimbulkan oleh sebuah identitas bisa mengalahkan kenikmatan yang dicecap oleh indera kita atas produk biskuitnya sendiri. Kenikmatan rasa dua lapis Oreo red velvet dengan krim putih di tengah itu barangkali ya begitu-begitu saja. Tak banyak beda dengan biskuit-biskuit Oreo sebelumnya. Namun, kenikmatan atas identitas yang ditimbulkan karena dapat memilikinya bisa tak terperi rasanya.


Demi identitas. Orang bisa melakukan apa saja. Karena identitas adalah harga diri. Diidentifikasi sebagai apa, di situlah harga diri berada. Karena itu banyak orang berani sara demi mendapatkan cap ndara. Sebab, ndara adalah identitas.


Demi identitas yang dijanjikan sebungkus Oreo Supreme, duit Rp 500-600 ribu pun ringan saja keluar kantong. Toh, bagi yang berotak bisnis, sebungkus Oreo Supreme itu bisa dipinjamkan (bukan untuk dimakan). Dengan tarif sewa. Kepada orang-orang yang membutuhkan identitas tapi tak mampu membelinya.


Masalahnya, demi identitas apa jika tiap kali ada bantuan sosial (bansos), selalu saja muncul orang yang sebenarnya mampu tapi rela menurunkan derajatnya agar bisa ikut menerima kucuran dana? Juga sembako dan segala rupa. Ini gejala yang, rasanya, khas Indonesia.


Di satu sisi ada yang berprinsip biar tekor asal kesohor. Di sisi yang lain, ada pula yang tidak mau tekor tapi ingin tetap kesohor. Yang seperti itu memang seharusnya diputar, dijilat, dan dicelupin… (penulis adalah wartawan JP Radar Kediri)


 


 


 

Editor : adi nugroho