NGANJUK, JP Radar Nganjuk Wayang Timplong Eksis karena Kesederhanaannya Kesenian Wayang Timplong masih tetap eksis hingga sekarang. Untuk menikmati pertunjukannya, dalang yang memainkan wayang itu hanya memerlukan kayu jenis apa saja untuk membuat karakter tokohnya. Kesederhanaan itulah yang membuat kesenian wayang ini bisa bertahan.Mbah Boncol pertama kali membuat Wayang Timplong dari kayu pohon sono. Sejak pertama kali diciptakan, kayu yang digunakan untuk membuat wayang tersebut tidak pernah dipatenkan.
“Semua jenis kayu bisa dipakai untuk membuat Wayang Timplong,” ujar Suyadi, dalang asal Pace.
Pada saat itu, banyak kayu dari pohon sono di sekitar Pace. Selain itu, ditemukan pula pohon mentaos dan waru di sekitar Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace. “Asal kayunya kuat, kualitas wayangnya pasti bagus,” ungkap Suyadi. Karena saat itu kayu bisa ditemukan dengan mudah, perkembangan wayang timplong terbilang pesat.
Karena waktu itu hanya Mbah Bancol yang bisa mendalang. Banyak warga yang datang untuk belajar dengannya. Selain belajar mendalang, mereka juga belajar membuat wayang dari kayu. Meski peminatnya tinggi, Mbah Bancol tidak ingin berlebihan. Dia tetap mempertahankan kesederhanaan wayang tersebut.
Masyarakat yang ingin belajar membuat wayang bisa menggunakan kayu jenis apa saja. Seperti yang dialami Suyadi yang sudah mendalang turun-temurun dari ayah dan kakeknya itu menggunakan kayu dari pohon waru dan mentaos.
Baca Juga: Ini Jenis Hama yang Sering Menyerang Tanaman Bawang Merah di Nganjuk
Di rumahnya di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace, beberapa wayang milik Suyadi dipajang di tembok rumahnya. Hanya ada dua wayang yang dibuat dari kayu jati. “Wayang-wayang ini digunakan untuk pajangan saja,” aku Suyadi. Sementara, Wayang Timplong yang digunakan untuk pertunjukan terbuat dari kayu waru dan mentaos.
Agar semua orang bisa membuat wayang tersebut maka Mbah Boncol tidak menetapkan kayu khusus untuk jenis wayangnya. Dia juga tidak pernah membatasi, apalagi melarang orang yang ingin memainkan Wayang Timplong. Semua dalang bisa memainkan wayang tersebut dengan cara sederhana. Sejauh ini, orang yang meneruskan tradisi Wayang Timplong dari Mbah Bancol itu tidak hanya dari keturunannya dan para kerabatnya. Sejak dulu, Mbah Boncol menyediakan waktunya untuk melatih warga yang ingin belajar memainkan wayang Timplong. “Warga biasa pun bisa ikut latihan mendalang Wayang Timplong dan membuat wayangnya,” lanjut Suyadi.
Lelaki 57 tahun itu mengatakan, kesederhanaan itulah yang membuat Wayang Timplong terus eksis. Wayang Timplong ini tetap bertahan hingga sekarang karena sejak awal setiap orang bisa dengan mudah mendapat akses untuk belajar. “Semua orang bisa belajar membuat wayangnya. Tapi untuk mendalang, mungkin tidak semua bisa,” ucap bapak dua anak itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah