NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Hama bawang merah di Kota Angin yang sedang tren di kalangan petani adalah janda pirang. Serangannya bisa menyebabkan bawang merah menjadi layu dan mati. Keganasan janda pirang ini menyerang saat usia tanam baru masuk 40 hari. Penyakit akibat serangan janda pirang itu masuk dalam pembahasan diskusi forum literasi keuangan untuk petani bawang merah di Hotel Nirwana pada Senin (18/12) lalu. Para petani di Kabupaten Nganjuk mengeluh karena kesulitan menangani hama tersebut. “Janda pirang ini menyerang saat musim kemarau lalu. Jumlahnya sangat banyak dan merata di semua kecamatan,” ujar Suratin, petani bawang merah asal Desa Bulurejo, Kecamatan Rejoso.
Dia mengatakan, hama itu disebut janda pirang karena dampak serangannya membuat daun berambang berubah menjadi cokelat tua lalu mengering. Serangan hama itu terjadi sejak bawang merah masih berusia muda. Penyemprotan pestisida dianggap tidak efektif. Kemungkinan hama tersebut bersembunyi di dalam tanaman.
Suratin, yang memiliki pengalaman bertani selama 52 tahun mengatakan, penanganan harus dilakukan dengan teliti. Dengan cara diperiksa satu persatu. “Jelas butuh waktu lama, dan yang saya ketahui dari petani di wilayah barat (Jawa Tengah, Jawa Barat, Red) tidak cukup hanya dengan semprotan pestisida. Kebanyakan pestisida juga merusak kualitas bawang,” ungkapnya.
Di lahan pertaniannya, Suratin telah mencoba solusi alternatif dengan menggunakan light trap dengan batang pohon pisang. Batang tersebut dipotong dengan tinggi sekitar 90-100cm lalu ditancapkan di beberapa titik lahan bawang merah. Batang pohon pisang itu dilumuri lem untuk menangkap serangga. Terutama Janda Pirang, yang aktif pada malam hari. “Banyak yang menempel ke batang yang saya lumuri lem itu. Karena pas malam kelihatan mengkilap,” tambah Suratin.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Bawang Merah Nganjuk, Akat mengakui adanya kompleksitas serangan hama yang terjadi baru-baru ini. Untuk menjaga kualitas berambang Nganjuk, dia mendukung upaya petani mengurangi penggunaan pestisida. “Jika terlalu banyak menggunakan pestisida, bukan hanya hama Janda Pirang yang mati. Nanti ekosistem di sekitarnya juga ikut memburuk, termasuk tanah,” katanya.
Baca Juga: Gagal Lolos dari Penyisihan, Tim Persenga Nganjuk Dibubarkan
Pentingnya pemahaman para petani di Kota Angin terkait penggunaan anti-hama tanpa zat kimia berlebihan menjadi sorotan. Selain mengurangi biaya perawatan, pendekatan ini juga bertujuan untuk menjaga ekosistem di lahan pertanian agar tidak mengalami kerusakan yang cepat.
Adapun Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Nganjuk Muslim Harsoyo melalui Kabid Produksi Fadlin Nuryani mengatakan, terjadinya serangan hama yang disebut janda pirang tidak lepas dari pengaruh el nino. Pada saat terjadi el nino, serangan thrips merupakan serangga kecil bisa berkembang dengan cepat. “Pada musim kemarau lalu terjadi ledakan hama itu,” ungkap Fadlin. Akibat serangan hama tersebut petani harus panen lebih awal.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah