Pertunjukkan Wayang Timplong tidak hanya untuk menghibur warga desa dengan cara sederhana. Wayang ini diyakini bisa membuat anak-anak yang nakal menjadi penurut. Bahkan keberadaannya dipercaya bisa untuk tolak bala. Tanggapan wayang ini kerap dimainkan untuk menghibur anak-anak yang sedang sunat.
“Dulu ada orang yang sakit. Dia baru sembuh ketika digelar pertunjukkan Wayang Timplong. Sampai saat ini juga masih dipercaya seperti itu,” ujar Dalang Wayang Timplong Suyadi. Pria 57 tahun itu mengatakan, pagelaran Wayang Timplong di desanya sejak dulu digunakan untuk menolak bala dan mendatangkan hal baik.
Keberadaan wayang dari kayu itu bisa menjadi penawar atau obat agar keluarga yang menanggap wayang tersebut sembuh. Bapak dua anak ini menambahkan, selama ini, dia tidak menggunakan kekuatan mistis atau apapun. Namun yang ia percaya, jika ada orang yang sembuh dari sakitnya, itu mungkin karena suasana hatinya berubah menjadi bahagia. Hal itu dia rasakan sejak masih kecil dulu.
Saat masih kanak-kanak, Yadi tidak pernah absen ketika ayahnya, Talam menjadi dalang di mana saja. Dia menyerap banyak pengetahuan tentang Wayang Timplong. “Saya dulu kalau ikut, selalu memerhatikan. Rasanya saya juga senang dan bahagia melihat pertunjukan wayang (Timplong, Red),” ungkapnya.
Memang bagi Suyadi, kebahagiaan yang ia dapat dari melihat Wayang Timplong itu bisa menjadi obat untuk kesedihan. Makanya, ia merasa cerita tentang orang yang sakit jadi sembuh itu bisa terjadi karena psikisnya sedang bahagia.
“Saya pernah mendalang untuk anak-anak yang baru sunat, anaknya bilang kalau lihat wayang enggak kepikiran sakit setelah sunat,” ujar Yadi.
Ia juga mengatakan, pertunjukan wayang asli Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace tidak pernah berganti makna. Semua untuk memberikan kebahagiaan dan menjadi obat bagi warga yang sedang terkena bala.
Lelaki yang kini tinggal di Desa Kepanjen, Kecamatan Pace itu memercayai sejak dulu, niat untuk meneruskan ilmu dalang Wayang Timplong dari ayahnya itu untuk menyebarkan obat untuk menjadi kebahagiaan bagi seluruh penonton. “Jika mau dibilang, yang sakit bisa jadi sembuh, dang mereka yang punya nazar bisa dimudahkan,” pungkasnya.
Keberadaan wayang Timplong ini sudah turun temurun. Ada yang menyebutkan, wayang tersebut merupakan revolusi dari wayang Krucil. Orang pertama kali memainkan wayang tersebut adalah Mbah Boncol. Karya seni asli Desa Gemenggeng, Pace itu diyakini lahir sebelum Indonesia merdeka. Sekitar 1910. Wayang Timplong ini menjadi karya seni asli dari Kota Angin. (syi/rq)