Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Petani di Nganjuk Keluhkan Pestisida dan Pupuk yang Mahal

Iqbal Syahroni • Senin, 18 Desember 2023 | 22:06 WIB

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Para petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk mengeluhkan tingginya biaya pestisida dan pupuk. Hal ini membuat mereka harus mengeluarkan banyak uang saat awal tanam hingga masa perawatan.


Salah satu petani bawang merah, Semi, harus mengeluarkan uang Rp 250 ribu - Rp 300 ribu untuk satu botol pestisida. Satu botol pestisida tersebut hanya bisa digunakan untuk sekali penyemprotan di lahan sekitar 100 ru. “Kalau ada penyemprotan banyak karena serangan hama meningkat, maka pengeluaran untuk beli pestisida bisa mencapai Rp 4-5 juta sekali musim tanam,” ujar lansia 61 tahun itu. Karena banyaknya penggunaan pestisida, dampaknya bisa memengaruhi kualitas berambang. “Berdoa saja, semoga tidak rusak karena faktor lain. Kalau rusak, bisa gagal panen dan produksi berkurang,” ungkap Semi.


Hal senada juga diungkapkan Duta Petani Andalan Nganjuk, Susanto, biaya pestisida dan pupuk untuk satu hektar lahan bawang merah bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 12 juta. “Terlalu besar untuk pengeluaran pembasmi hama berambang,” ucap Susanto.Untuk mengatasi tingginya biaya pestisida dan pupuk, cara yang bisa dipakai untuk memotong pengeluaran adalah dengan  lean farming. “Tidak pakai pestisida, tapi pakai light trap,” ujar Susanto.


Susanto mengatakan, light trap merupakan alat untuk menangkap hama menggu­nakan cahaya. Ia berharap agar pemerintah dapat memberikan bantuan kepada para petani untuk mengatasi tingginya biaya pestisida dan pupuk.

Baca Juga: Preview Liga 3 Persenga v Assyabaab: Menang atau Pulang Kampung?


Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Nganjuk Muslim Harsoyo mengatakan, ada beberapa cara untuk mengatasi tingginya biaya pestisida dan pupuk. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pengendalian hayati (APH). “Melalui Program pengendalian populasi dengan menggunakan metode pengendalian hayati (APH),” ungkapnya.Muslim mengatakan bahwa penyemprotan APH diberikan gratis untuk para petani yang sudah mengajukan ke dinas pertanian. Namun, efisiensi waktu untuk pembuatan APH ini tergolong lama. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#petani #nganjuk berita terbaru #nganjuk berita viral #nganjuk