Gelegar tawa terdengar dari sebuah kafe di Kelurahan Bogo, Kecamatan Nganjuk. Suara tawa itu meledak saat komika berhasil membuat jokes atau guyonan yang mengocok perut saat tampil atau open mic. Agar bisa membuat jokes yang mengocok perut dan materi up to date, komika harus jadi seperti wartawan.
“Membuat lelucon atau jokes yang berkualitas itu harus seperti wartawan menulis berita,” ujar Pandhu Pranata, 33, Ketua Komunitas Stand up Indo Nganjuk kemarin. Sebelum open mic, komika tidak boleh asal naik ke atas panggung. Kemudian, ngomong atau membuat jokes mendadak.
Karena hasilnya, tidak akan maksimal. Justru, akan membuat komika kebingungan. Tidak tahu apa yang akan diomongkan. Ujung-ujungnya kata-kata ‘Ee… Aa…He…’ yang keluar dan penonton akan bored.
Apalagi, sebagai komika itu tujuannya tidak hanya menghibur audiens atau penonton. Namun, jokes yang disampaikan harus berkualitas. Artinya, memiliki makna atau tujuan yang bermanfaat untuk audiens.
Untuk itu, komika akan melakukan research dulu tentang materi yang akan dibawakan. Materi atau topik ini harus yang lagi ngetren. Bukan masa lampau. Bisa terkait kondisi yang dialami masyarakat saat ini hingga pengalaman pribadi. Kemudian, menulis naskahnya terlebih dulu. “5W + 1 H harus masuk seperti wartawan menulis berita,” ungkap Pandhu.
Setelah ditulis, komika akan melakukan check and recheck. Jangan sampai materi yang disampaikan nanti menimbulkan gejolak karena mengandung unsur SARA. Karena tujuan komika tampil adalah menghibur dan materi yang disampaikan membawa manfaat kepada audiens.
Inilah yang membuat Komunitas Stand up Indo Nganjuk harus berlatih keras. Karena mayoritas anggota komunitas ini tidak memiliki background jurnalistik atau penulis. Mau tidak mau, mereka harus belajar untuk menjadi wartawan agar materi jokes yang disampaikan benar-benar berkualitas. Sehingga, butuh waktu berminggu-minggu untuk membuat materi yang berkualitas bagi komika sebelum open mic. “Anggota kami itu ada yang aparatur sipil Negara (ASN), anggota Polri, dan content creator,” ujar ayah dua anak ini.
Sementara itu, Eci Fadia, 21, penonton stand up comedy mengaku sangat terhibur dengan penampilan komika lokal. Dia pun tertawa terbahak-bahak saat para komika open mic di kafe. ”Awalnya cuma ingin ngopi, tapi karena ada stand up saya tonton. Ternyata sangat lucu” ujarnya.
Menurutnya, stand up comedy sangat menarik dan merupakan hal baru yang ditemui di Nganjuk. ”Sebelumnya tidak tau kalo ada komunitas stand up comedy ini. Baru tau hari ini” ungkap mahasiswa ini.
Eci berharap komunitas stand up comedy tersebut bisa lebih berkembang. Sehingga, dapat menghibur masyarakat Nganjuk dan sekitarnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah