Dewi Kilisuci mengajak prajuritnya ketika melarikan diri dari kerajaan. Mereka memilih menepi ke Gunung Wilis. Sebelum menuju ke puncak gunung, mereka singgah di Bajulan. Desa itu dijadikan sebagai tempat persembunyian dari kejaran musuh. Ketika Dewi Kilisuci meninggalkan Bajulan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Wilis, prajuritnya memilih menetap dan bermukim di Bajulan.
“Para prajurit Dewi Kilisuci memilih Bajulan sebagai tempat tinggal karena punya tugas untuk melindungi perjalanan Dewi Kilisuci ke puncak Gunung Wilis,” terang Pemangku Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis Bajulan Damri.
Jika ada musuh yang mengejar Dewi Kilisuci lewat Bajulan maka mereka akan menghadapi para prajurit tersebut. Prajurit itu bisa juga menjadi penyampai pesan kepada Dewi Kilisuci jika musuh sudah masuk ke wilayah Bajulan.
Dia memperkirakan keturunan pengikut Dewi Kilisuci di Bajulan itu sudah turun temurun hingga sekarang.
Damri menceritakan alasan Dewi Kilisuci dan prajuritnya memilih Bajulan sebagai tempat persembunyian karena lokasinya yang strategis. Itu berbeda dengan kawasan Ngetos dan Sawahan. Di sana tempatnya terjal dan kurang efektif untuk tempat bersembunyi. Dari tata letak, Desa Bajulan sendiri bisa disebut sebagai benteng untuk persembunyian di dalam hutan.
Karena itulah, tanah Bajulan dipercaya memiliki kelebihan pertahanan yang kuat karena dibentengi doa dari prajurit setia Dewi Kilisuci. Sebab itulah marabahaya dari sisi magis dan fisik sulit menembus desa tersebut.
Cerita prajurit melindungi Dewi Kilisuci selama perjalanan di Bajulan itu semakin menguatkan tempat itu sebagai desa anti maling dan penjahat. Doa dari Dewi Kilisuci dan para prajuritnya itu semakin menguatkan kepercayaan warga jika Desa Bajulan telah dibentengi oleh doa-doa yang manjur untuk melindungi desa dari marabahaya.
“Dulunya doa para prajurit itu dimaksudkan untuk melindungi Dewi Kilisuci,” ucap Damri. Mereka berdoa agar Dewi Kilisuci tidak ditemukan oleh pasukan kerajaan lain. Masyarakat di desa itu percaya, Bajulan memiliki kekuatan doa (spiritual) hingga kekuatan prajurit (fisik).
Editor : Anwar Bahar Basalamah