Petani Kota Angin terus berinovasi. Jika selama ini pemusnahan ulat selalu menggunakan pestisida, kali ini mereka menggunakan agen pengendali hayati (APH) untuk melawan serangan hama. Dengan cara itu, petani bisa hemat biaya produksi dan hasil panennya bisa maksimal.
Penggunaan APH ini sudah diterapkan selama enam bulan di seluruh kecamatan di Kota Angin. Sasaran utamanya adalah kawasan pertanian padi. Salah satunya ada di Kecamatan Jatikalen. “Sawah saya juga sudah menggunakan APH,” aku petani Dusun Kedungtunggak, Desa/Kecamatan Jatikalen, Suyanto.
Petani 46 tahun itu mengatakan, APH tersebut digunakan untuk lahan seluas 100 ru. Sejak menggunakan APH, Suyanto mengatakan ada kenaikan jumlah produksi. Setelah panen, produksinya bertambah sebanyak 500 kuintal untuk 100 ru padi.
Selama ini, hasil panen padi di lahan 100 ru miliknya maksimal hanya bisa menghasilkan satu ton padi. Setelah penggunaan APH pada Juni lalu panen pada September, produksi padinya menjadi 1,5 ton. Ada kenaikan 0,5 ton. ”Selama ini, panennya tidak bisa maksimal. Pasti ada yang rusak karena serangan hama,” imbuh pria yang kerap disapa Yanto itu.
Menariknya, penggunaan APH tersebut disebar menggunakan drone milik dinas pertanian. Bapak dua anak itu awalnya pesimistis dengan upaya pemberantasan hama ulat menggunakan APH. Apalagi saat itu dilakukan menggunakan drone yang disemprotkan dari atas langit.
“Itupun hanya disemprot di permukaan daun-daun dari padi di lahannya saja,” ucap Yanto dengan nada pesimistis. Sebab, yang dilakukan dengan metode APH ini tidak seperti metode tradisional. Biasanyadisemprot lebih dekat dan larva ataupun ulat yang mulai tumbuh di dalam padi dicek satu per satu.
Waktu penyemprotan Juni lalu, banyak anggota dari kelompok tani yang bertanya. Apakah petani perlu memberi obat tambahan memakai insektisida dan pestisida? “Saat itu, kata petugas drone nya tidak perlu. Tapi ya awal-awal pasti petani pada khawatir,” ungkap Yanto.
Dia lalu mengikuti saran untuk tidak menambah pestisida. Dan hasilnya sama dengan petani lain yang masih menambah pestisida. ”Jadi ya sama saja hasilnya. Beda biaya produksi saja, saya gak perlu beli pestisida lagi,” ungkap Yanto.
Hal itu juga dibenarkan oleh Kepala Dispertan Kabupaten Nganjuk Muslim Harsoyo. Penyemprotan dengan APH sudah tak perlu lagi ditambah dengan pestisida. ”Karena memang sifatnya penyemprotan dengan drone memang mencegah saja, jadi sebelum diserang, kita “serang” dulu dengan bakteri dan jamur untuk mencegah ulat bisa masuk menyerang padi,” pungkasnya.
Bagaimana Mengolah Bakteri dengan Cairan Kedelai? Begini Caranya
Penyemprotan agen pengendali hayati (APH) menggunakan drone tidak bisa dilakukan setiap hari. Hal itu disebabkan karena jumlah APH yang diproduksi oleh dinas pertanian (dispertan) sangat terbatas. Pembuatan agen pengendali hayati ini menggunakan Beauveria Bassiana. Berasal dari sisa cairan kedelai yang diproduksi dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Laboratorium Dispertan.
Pembuatan APH bisa dilakukan dalam waktu yang agak lama. Minimal 14 hari baru bisa digunakan. Dan rata-rata, penggunaan APH di Kota Angin menggunakan waktu pembuatan selama 21 hari. Semakin lama waktu pengolahannya maka hasilnya semakin baik. “Karena bakteri dan fungi atau jamur harus diperbanyak untuk mendapatkan hasil terbaik,” ujar Kepala Dispertan Muslim Harsoyo.
Seperti Kamis lalu, jumlah APH di dinas pertanian tinggal menyisakan tiga galon. Masing-masing galon berukuran 15 liter. Sedangkan penggunaannya, membutuhkan minimal 5 liter untuk sawah seluas 2 hektare. “Makanya setiap hari, kami terus membuat APH itu di laboratorium,” ucapnya.
Selain air kedelai, bahan yang dicampur adalah gula, bakteri dan jamur. Semua bahan itu dimasukkan setelah air kedelai dimasak. Proses pengadukan dan pemberian makan pada bakteri dan jamur itu selama 14 hari.
Mantan Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan itu menambahkan, pembuatan APH pun juga ada bisa mengalami kegagalannya. “Bakterinya tidak berkembang,” lanjutnya. Selama enam bulan produksi, hanya 0,9 persen APH yang mengalami kegagalan. Semua karena terkontaminasi dengan udara luar saat memasak di ruang tertutup.
Sejak diproduksi, jumlah APH yang sudah bisa dimanfaatkan ada sebanyak 2000 liter. APH tersebut dipakai di banyak tempat. Pada Juni dan Juli lalu, penyemprotan dilakukan di beberapa desa. Seperti di Desa Banjarejo, Sukorejo, Musirlor, Talun, dan Jintel. Semuanya baeada di Kecamatan Rejoso. “Disemprot sebelum masa panen,” tambahnya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rejoso Denik Purwaningsih mengatakan, kelompok tani di desanya, Musilor juga sangat antusias dengan APH ini. “Produksi panen meningkat juga, tapi memang gak banyak. Kalau saya menilai, ini juga faktor cuaca,” ujarnya.
Para petani juga merasa sangat terbantu dengan adanya APH ini. Dispertan memberikannya gratis untuk para petani. Selain mengurangi biaya perawatan untuk hama, juga bisa menambah produksi panennya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah