Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Mbah Putri Menjadi Pencetus Tradisi Nyadran Sonoageng

Ilmidza Amalia Nadzira • Jumat, 10 November 2023 | 20:15 WIB

Photo
Photo

Tradisi nyadran di Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon sudah menjadi ikon kegiatan budaya di Nganjuk. Prosesi nyadran di desa itu pertama kali dilakukan Mbah Putri setelah wafatnya Raden Said. Aktivitas bersih desa itu masih lestari hingga sekarang.

“Mbah Putri yang pertama kali mengajak Syech Wahdad dan penduduk Sonoageng untuk tahlilan mendoakan mendiang Raden Said,” ungkap Tohar, 66, warga Desa Sonoageng, Prambon. 
Pria yang juga sebagai juru kunci makam Sonoageng itu mengatakan, Mbah Putri mengajak warga untuk selamatan. Selalu mendoakan Raden Said sebagai orang yang pertama kali babat desa Sonoageng.

Kegiatan itu sebagai wujud penghormatan kepada Raden Said. “Dulu hanya sebatas sesajen, berdoa, tahlil, dan ada ingkung ayamnya. Ditambah pula kegiatan tabur bunga. Tapi sekarang, warga memutuskan untuk menggelar nyadran setiap tahun saat walikan (musim panen kedua, red),” beber Tohar.  

Jika awalnya dilaksanakan dengan sederhana, sekarang kegiatan ini digelar dengan prosesi yang lebih besar. Kalau dulu hanya menggunakan ingkung ayam, sekarang masyarakat menambahkannya dengan sedekah hasil bumi. Dan satu lagi yang tidak kalah penting adalah kewajiban menyediakan apem sebagai salah satu ciri khas dari nyadran di Sonoageng. 

Baca Juga: Ini Rangkaian Upacara Hari Pahlawan di Kabupaten Nganjuk

Semua itu dilakukan untuk menghormati leluhur Sonoageng yakni Raden Said sebagai orang yang babat desa. Tohar menambahkan, untuk menggelar prosesi nyadran tersebut, persiapannya tidak main-main. Perlu perencanaan yang matang sebelum kegiatannya digelar. 

“Kegiatan ini akan  melibatkan seluruh warga (Desa Sonoageng, Red,),” ujar Tohar. Agar pelaksanaannya tampak meriah maka perlu persiapan dekorasi makam, kemudian kesiapan petugas saat prosesi, hingga pembagian panitia untuk tamu undangan dan bagian keamanan. Upacara bersih desa seperti itu mulai rutin dilaksanakan sejak 1994. 

Yang membuat kegiatan nyadran ini selalu ramai, karena dilaksanakan dalam waktu yang lama. Masyarakat Sonoageng akan menggelar ritual nyekar dan kenduri di makam Sonoageng selama 20 hari.

Kalau dulu hanya sebatas nyekar dan kenduri saat ini ritual nyadran dilakukan lebih meriah. Hal itu bertujuan tak lain untuk menghormati Raden Said. Proses ritual nyadran di Sonoageng ditandai dengan arak-arakan mengenakan pakaian adat Jawa mulai dari kantor desa hingga ke makam. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#nyadran #jelajah #desa unik #tradisi