Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jelajah Desa Unik di Nganjuk: Raden Said Meninggal saat Bertapa di Pohon Sono

Ilmidza Amalia Nadzira • Kamis, 9 November 2023 | 17:35 WIB

Photo
Photo

Tradisi nyadran di Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon tidak lepas dari keberadaan Raden Said. Dia adalah orang yang babat alas desa itu. Dia wafat setelah 40 hari bertapa di bawah pohon sono yang kini menjelma jadi beringin raksasa.

Raden Said diperkirakan datang ke Desa Sonoageng, Prambon pada 1796. Saat itu, dia membabat alas Desa Sonoageng bersama dua saudaranya. Mereka adalah Mbah Putri dan Syech Wahdad. “Tidak ada yang tahu siapa nama asli Mbah Putri yang dimakamkan dekat Raden Said,” ujar Tohar, 66, warga Desa Sonoageng, Prambon.

Tiga ber­saudara itu melarikan diri ke wilayah timur Jawa. Karena ter­jadi perang an­tara Kesultanan Yog­ya­karta dan Kesultanan Solo. Pepe­rangan itu dimenangkan Kesultanan Yogyakarta.
Raden Said yang diketahui merupakan anak dari Adipati Mangkunegaran Solo terpaksa mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk menghindari kejaran musuh. 

Raden Said memilih Sonoageng sebagai tempat pelarian bukan tanpa alasan. Sebelumnya dia pernah berguru dengan seorang kiai dan memintanya untuk pergi ke wilayah Timur. “Mbah Said diminta untuk mengikuti arah matahari terbit. Hingga akhirnya sampai di sini (Desa Sonoageng, Red),” ungkap Tohar yang telah menjadi juru kunci makam Sonoageng selama sembilan tahun.  

Baca Juga: Wow! Tiga Kurir Sabu-Sabu Asal Nganjuk Dituntut Hukuman Mati

Di tempat pengasingannya itu, Raden Said paling suka beristirahat di bawah pohon sono. Pohon raksasa itu menjulang tinggi hingga belasan meter. Kebiasaannya itu terus berlanjut hingga tempat yang dia buka itu ramai ditempati warga. Karena mulai dihuni para pendatang, Raden Said bersama dengan dua saudaranya mengamalkan ilmu yang diajarkan kiainya. Mereka menyebarkan ilmu agama kepada penduduk yang tinggal di Sonoageng. 

Setelah bertahun-tahun tinggal di Sonoageng, Raden Said suatu ketika memilih bertapa di bawah pohon sono yang kini menjelma menjadi beringin. Raden Said, bertapa selama 40 hari. Sebelum bertapa, dia berpesan kepada Mbah Putri jika empat puluh hari tidak bergerak maka dirinya sudah tiada. “Mbah Said meminta agar dikuburkan di bawah pohon sono besar yang menjadi tempat istirahat favorit sekaligus menjadi tempat peristirahatan terakhirnya,” terang Tohar.

Setelah 40 hari bertapa, Raden Said tidak kunjung bergerak. Dia wafat saat bertapa di bawah pohon sono. “Orang dulu itu kan tirakatnya kuat. Mbah Said meninggal saat bertapa. Mbah Putri dan Syech Wahdad memakam­kannya di sini (bahwa pohon sono sekarang jadi beringin, Red),” tandas Tohar.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#raden said #Jelajah Desa #Babat Alas #tradisi