Selain populer dengan tradisi nyadranan, Desa Sonoageng, Prambon juga dikenal sentra sapi potong. Bahkan, masyarakat menyebut desa itu sebagai penghasil sapi terbesar di Kota Angin. Selain peternak sapi, di sana juga banyak tukang jagal dan pedagang sapinya.
“Peternak sapi Sonoageng ini dikenal sejak 1980,” ungkap Tohar, warga Desa Sonoageng, Prambon. Pria 66 tahun itu mengatakan, sekitar 40 tahun lalu, peternak di desanya kerap menjadi juara lomba bibit sapi terbaik yang digelar bupati.
Lomba itulah yang mengantarkan Desa Sonoageng menjadi sentra sapi. Orang dari luar desa mengakui keunggulan sapi Sonoageng. Selain kualitas daging yang super, kesehatan sapinya sangat terjaga dengan baik. Karena bagus, sapi Sonoageng terkenal dengan juaranya daging.
Kualitas juara itulah yang membuat banyak orang melirik sapi yang dipelihara peternak Sonoageng. Para pembeli tidak hanya datang dari luar desa, mereka dari luar kota pun berbondong untuk mendapatkan sapi berkualitas super tersebut. “Saat itu Sonoageng menjadi rujukan bagi pencari sapi. Ada yang beli untuk diternak hingga diolah untuk bahan baku makanan, pokoknya sapi di sini super-super,” imbuh bapak anak tiga ini.
Baca Juga: Pemkab Nganjuk Gelontorkan Rp 1,7 Miliar untuk Bangun Sport Center di Stadion Anjuk Ladang
Untuk menandai desa penghasil sapi, pemerintah desa lalu membuat tugu sapi di gerbang masuk Desa Sonoageng. Dua patung sapi berwarna putih itu menjadi tanda jika Desa Sonoageng adalah sentra sapi di Kota Angin. Hal itu diperkuat dengan tulisan, pusat pembibitan ternak sapi potong
Karena menjadi sentra sapi, masyarakat di desa itu banyak yang bekerja sebagai tukang jagal sapi. Daging sapi asal Sonoageng ini dijual di pasar-pasar tradisional yang ada di Nganjuk.
Biasanya, produksi sapi di desa itu akan dimaksimalkan pada saat ramadan dan hari raya idul adha. Setiap momen hari besar itu, produksi sapi lokal di desa tersebut bisa untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Kota Angin.
Bahkan, peternak sapi di Sonoageng selalu memanfaatkan momentum itu untuk panen. Kebutuhan daging pasti akan meningkat sehingga sapi-sapinya dikirim hingga luar kota bahkan luar provinsi. “Jadi selain menjadi sentra nyadran terbesar, di sini juga jadi sentra sapi terbesar pula,” imbuh pria yang sejak 9 tahun lalu jadi juru kunci makam Sonoageng.
Tohar juga mengatakan, dulu leluhur Sonoageng, Raden Said, tidak memberikan arahan untuk menjadi peternak. Orang yang membabat alas desa itu bersama Mbah Putri dan Syech Wadad ketika itu memilih untuk berladang dan bertani. Karena itu, selain banyak peternak di Desa Sonoageng masih didominasi petani.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah