NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Nganjuk angkat bicara terkait kasus pembunuhan Allisya Saffa. Karena Allisya masih anak-anak. Usianya baru lima tahun. Dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Kemudian, Allisya juga seorang perempuan. Selain itu, kandidat kuat tersangka dalam kasus pembunuhan sadis itu adalah Mariadi, 51, tetangga depan rumahnya. Diduga Mariadi mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga, jika dia positif gangguan jiwa maka kasus hukumnya akan berhenti. “Jika tersangka mengalami gangguan jiwa maka kami akan merehabilitasi agar sembuh dan tidak membahayakan orang lain,” ujar Kepala Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk Darmantono kemarin.
Sayang, hasil tes kejiwaan Mariadi hingga kemarin belum didapat dinsos PPPA. Sehingga, dinsos PPPA belum bisa memutuskan kapan akan merehabilitasi atau membawa Mariadi untuk menjalani pengobatan.
“Kami tunggu hasil pemeriksaan dari dokter dan penyelidikan polisi dulu,” ujar Darmantono.
Sementara itu, kemarin, Mariadi masih menjalani pemeriksaan intensif di Rumah Sakit Daerah (RSD) Nganjuk. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup. Tim dokter memeriksa kejiwaan Mariadi untuk memastikan apakah yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa seperti yang diceritakan tetangganya atau tidak. Karena jika dia mengalami gangguan jiwa dan membunuh Allisya maka kasus hukum akan berhenti. Mariadi tidak bisa dibawa ke meja hijau. Sebagai gantinya, dia harus menjalani perawatan untuk penyembuhan gangguan jiwa yang dialaminya. “Sekarang (kemarin, Red), masih proses pemeriksaan psikolog klinis,” ungkap dokter spesialis kejiwaan RSD Nganjuk dr Fendy Hardyanto SpKJ saat ditemui di RSD Nganjuk kemarin.
Fendy mengatakan, hasil pemeriksaan kejiwaan Mariadi akan diberikan ke penyidik Polres Nganjuk. Itu sebagai dasar polisi untuk penentuan dalam kasus pembunuhan anak TK asal Desa Tempuran, Kecamatan Ngluyu tersebut. “Mohon bersabar. Mungkin satu-dua hari lagi bisa diketahui hasilnya,” ujarnya.
Terpisah, Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Supriyanto mengatakan, pihaknya akan melakukan press release terkait kasus pembunuhan anak TK asal Desa Tempuran. Ini dilakukan setelah polisi melakukan penyelidikan sejak Jumat sore (3/11). Barang bukti (BB) cangkul yang digunakan untuk membunuh Allisya juga sudah diamankan. “Besok (hari ini, Red) untuk press release-nya,” ujarnya.
Terkait status Mariadi dan kondisi kejiwaannya, Supriyanto enggan mengungkapkan. “Besok (hari ini, Red) akan kami jelaskan semua,” elaknya.
Untuk diketahui, Allisya ditemukan meninggal dunia di lubang sedalam 1,5 meter di halaman belakang rumah Mariadi. Lubang tersebut rencananya untuk jamban. Rumah Mariadi dan Allisya berhadapan. Selama ini warga menduga Mariadi mengalami gangguan kejiwaan. Sehingga, dia tidak menikah dan tinggal sendirian. Gangguan kejiwaan itu yang diduga menjadi alasan pria berusia 51 tahun itu tega mencangkul Allisya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah