Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pengakuan Survivor Mental Health Asal Nganjuk soal Pentingnya Membikin Komunitas

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 6 November 2023 | 20:40 WIB
SUKARELAWAN: Febri Tri Arianto, Survivor Mental Health berbagi pengalaman dengan komunitas peduli mental health.
SUKARELAWAN: Febri Tri Arianto, Survivor Mental Health berbagi pengalaman dengan komunitas peduli mental health.

Pengalaman pernah diabaikan orang terdekat menjadi bekal Febri Tri Arianto mendirikan komunitas peduli mental health. Pria 34 tahun asal Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret itu didiagnosis sebagai penderita skizoafektif. Belasan tahun berjuang untuk sembuh membuatnya dirinya terpanggil untuk ikut membantu kesembuhan bagi mereka yang kena gangguan mental.

Dia bertekad mendidikasikan diri membantu mereka yang ingin sembuh. Salah satu kampanye adalah meminta masyarakat tidak menyepelekan kesehatan mental. Salah satu tantangan berat adalah adanya stigma masyarakat tentang kesehatan jiwa. Sebab itu, penyakit ini masih menjadi momok. Sehingga penderita mental health lebih tertutup dan memilih untuk tidak menceritakannya ke orang lain.

Padahal, faktanya banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang mengalami gangguan mental dan kejiwaan. “Sementara anggotanya masih sedikit. Ada yang latar belakangnya dokter kecantikan, dokter gigi, hingga instruktur yoga. Mereka semua ikut bergabung ke komunitas ini,” terang ayah tiga anak ini.

Dia menjelaskan, banyak faktor yang penyebab sakit mentalnya. Misalnya ada yang depresi karena mengalami baby blues. Ada yang depresi karena sering ditanya kapan punya anak. Hingga depresi karena tidak bisa menenangkan dirinya sendiri. Padahal pekerjaannya sebagai instruktur yoga yang notabene-nya olahraga yang bermanfaat bagi ketenangan dan keseimbangan tubuh.

“Itu faktanya. Di luar sana, masih banyak yang mengalami gangguan mental seperti itu tapi enggan untuk berobat. Bisa jadi karena tidak ada kepedulian dan dukungan dari orang sekitarnya,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat lebih aware terhadap kesehatan mentalnya. Dia dan komunitas yang ia dirikan itu siap memberi pendampingan. Termasuk jika penderita gangguan mental ingin berobat ke dokter kejiwaan. “Kalau saya mungkin bisa untuk jadi teman sharing. Berbagi cerita untuk survive. Untuk pengawasan secara medis pasti bagiannya dokter kejiwaan,” paparnya.

Ide membentuk komunitas ini berawal saat ia berobat ke dr Fendy Harnanto dari RSD Nganjuk. Dokter jiwa tersebut melihat progres pengobatan Febri yang meningkat signifikan. Akhirnya ia diarahkan untuk membantu pasien-pasiennya untuk bisa survive seperti Febri. “Orang depresi itu kan hanya ingin didengar dan diberikan afirmasi dukungan untuk mereka. Jadi ketika ngobrol kami saling sharing pengalaman,” lanjut Febri. Dia mengatakan, salah satu kunci untuk menekan tingkat depresi adalah berbagi cerita. Ia juga berharap, komunitas ini bisa memberi manfaat bagi warga Kota Angin. 

Editor : Anwar Bahar Basalamah