Musim kemarau menjadi waktu terbaik untuk bermain layangan. Diterbangkan saat sore hari, layangan gapangan itu akan dibiarkan membumbung di langit hingga pagi hari. Ketika malam, para pecintanya akan menikmati kilauan lampu di langit yang disertai suara menderu.
Masih ingat kejadian menggemparkan media sosial pada awal musim kemarau pada Juli 2023 lalu? Saat itu, warga di Pasuruan dihebohkan dengan penampakan UFO (Unidentified Flying Object). Lembaga penyedia navigasi penerbangan RI memastikan tidak ada benda terbang bermaterial logam. Artinya benda tersebut bukanlah UFO melainkan layangan gapangan yang menghiasi langit dengan lampunya yang gemerlap.
Aktivitas layangan gapangan seperti itu semakin marak terjadi. Termasuk di Kota Angin. Lokasinya menyebar di banyak kecamatan. Seperti Kecamatan Loceret, Ngetos, Ngluyu, hingga Sukomoro dan pusat kota. Hampir setiap malam ada layangan yang mengudara di langit Kota Angin.
“Kalau musim kemarau seperti ini layang-layangnya bisa diterbangkan sampai pagi. Beda jika dimainkan saat musim hujan, layang-layangnya tidak bisa terbang lama,” ujar Iskandar, pecinta layangan asal Kelurahan Kapas, Sukomoro.
Lelaki 44 tahun itu mengatakan, pada saat musim kemarau seperti ini, layangan selalu menjadi hiburan. Para pecinta layangan biasanya menerbangkan layangannya di lapangan. Jika tidak ada lapangan, mereka biasanya akan mencari areal persawahan yang biasanya baru panen padi.
“Pecinta layangan tidak mengenal usia, berapapun umurnya tetap bisa bermain layang-layang,” ucap Iskandar. Bahkan, Iskandar sendiri menyukai layang-layang sejak duduk di bangku sekolah dasar dan kecintaannya pada permainan itu menurun dari bapaknya.
Layangan gapangan yang dibuat biasanya berukuran besar. Salah satu layangan yang dimainkan berukuran 120 sentimeter. Selama musim kemarau, Iskandar selalu menerbangkan layangan pada saat sore di lahan sawah belakang rumahnya. Dia melakukan itu sambil mencari rumput untuk pakan ternaknya.
Usai mencari rumput, dia lalu menerbangkan layangan yang dibuat dengan tangannya sendiri. Bapak dua anak itu menerbangkan layangan sekitar pukul 16.00 sampai keesokan paginya. “Saya merasa terhibur mendengar suara layangan sambil mencari rumput,” paparnya.
Hanya bermodal Rp 20 ribu, Iskandar sudah bisa membuat layangan gapangan. Dia mengaku tidak pernah menjual layangannya. Semua produknya dipakai untuk diri sendiri dan anak-anaknya. Termasuk untuk aktivitas bermain anak-anak di lingkungan rumahnya. Dia bisa membuat layang-layang karena dulu belajar dari bapaknya.
Pada sore hari, anak-anak yang mengaji di Kelurahan Kapas juga bermain layangan di lahan kosong. Mereka biasanya bermain bersama-sama dengan Iskandar di sawah. Lelaki 42 tahun itu merasa senang bisa mengalihkan aktivitas anak-anak di lingkungannya tidak bermain gadget. Anak-anak di lingkungannya bisa menghabiskan waktu bermain layangan di sawah. (syi/rq)
Editor : Anwar Bahar Basalamah