Nyadran di Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon menjadi hal yang paling ditunggu masyarakat. Karena berbagai hiburan dan pertunjukkan akan digelar saat nyadran tersebut. Menariknya, nyadran tidak hanya digelar sehari atau seminggu. Namun, hingga puluhan hari.
“Nyadran di Sonoageng itu selama 20 hari,” ujar Tohar, juru kunci makam Sonoageng. Selalu dimulai saat Kamis Legi dan diakhiri pada Jumat Pahing. Setiap tahun pun demikian. Tidak ada tanggal pastinya. Yang pasti, setelah panen raya padi. Karena nyadran sebagai wujud syukur warga Desa Sonoageng kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberi rezeki kepada warga.
Selama 20 hari, setiap hari akan ada pertunjukkan selama nyadran. Mulai dari kentrung, wayang krucil, jaranan, ludruk, hingga pasar malam. Karena itu, warga Nganjuk dan sekitarnya akan berbondong-bondong datang ke Sonoageng saat nyadran. “Ramainya setiap malam,” imbuh juru kunci berusia 66 tahun ini.
Selain hiburan, warga juga akan selamatan di makam Raden Said. Karena Raden Said dianggap sebagai orang pertama yang babat alas Sonoageng. Dia juga yang memberi nama desa. Karena saat capek membuka lahan di hutan, dia istirahat di bawah pohon sono yang besar. Sono yang besar itu akhirnya dijadikan nama desa. Sonoageng. Sayang, pohon sono yang berada dekat dengan makam Raden Said sudah mati. Sebagai gantinya, ada pohon beringin berukuran raksasa di sana. “Biasanya warga bawa ingkung ke makam Raden Said untuk selamatan nyadran,” imbuh Tohar.
Terpisah, Sujatmiko, 34, warga Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro mengaku tertarik mengunjungi Sonoageng setiap nyadran. Pengunjung tidak hanya dari Nganjuk. Namun, warga luar Kabupaten Nganjuk juga berdatangan. “Ribuan orang selalu memadati setiap nyadran Sonoageng,” ujarnya.
Bagi Sujatmiko, nyadran paling semarak dan besar di Nganjuk adalah Sonoageng. Desa itu menjadi satu-satunya desa yang menggelar nyadran paling lama. “Nyadran ya Sonoageng,” pungkasnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah