Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perjuangan Almarhum KH M. Munadjat, Agen Koran Dirikan Ponpes dan Yayasan Pendidikan Islam

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 23 Oktober 2023 | 17:28 WIB
TEKUN: Siswi MA Al Huda Bogo, Kecamatan Nganjuk belajar mengaji.
TEKUN: Siswi MA Al Huda Bogo, Kecamatan Nganjuk belajar mengaji.

Perjuangan Almarhum KH. M. Munadjat, agen koran Jawa Pos Radar Nganjuk patut diacungi jempol. Puluhan tahun dia menjadi agen, keuntungan yang didapat disisihkan untuk mendirikan pondok pesantren dan yayasan pendidikan Islam. Itu semua dilakukan agar anak asongan dan warga kurang mampu bisa mengenyam pendidikan secara gratis.


Jasa almarhum KH. M. Munadjat sangat besar. Dia berhasil mendirikan pondok pesantren dan yayasan pendidikan di Kota Angin.


Pondok Pesantren yang ia dirikan itu bernama Subulul Huda. Dan Yayasan Al Huda untuk pendidikan formal sebagai Madrasah Ibtidaiyah.


Lokasi ponpesnya berada di Kelurahan Bogo, Nganjuk. Salah satu menantunya, Muhammad Badridduja, 46, mengatakan bahwa mertuanya dulu pernah mondok di Madiun. “Dulu Mbah Yai (Munadjat, Red) mondok di Ponpes Subulul Huda Bangsawit Madiun,” ujarnya.


KH Munadjat yang asli Ngawi itu menikah Nur Halimah perempuan asal Kelurahan Bogo, Nganjuk. Dari pernikahan itu, mereka dikarunai lima ,orang anak. Yakni Agus Nurwahid, 44; Siti Munawaroh, 42; Agus Ma’mun Murod, 40; Munirul Ichwan, 35; dan Imam Ghazali, 25.


Ponpes Subul Huda Bogo itu didirikan setelah KH Mundjat selesai nyantri di Ponpes Subulul Huda Bangsawit Madiun. Dia mendirikan Ponpes itu dengan penuh perjuangan. Yakni dari penjualan koran Jawa Pos. Pendirian dua lembaga itu sekitar 1985.


Pada saat itu KH Munadjat bekerja sebagai pedagang asongan. Dia berpindah dari bus ke bus. Saat itu, dia bertemu dengan kiainya dari Madiun. Munadjat diberi motivasi untuk bekerja lebih baik. Dan tidak menjadi pedagang asongan.


“Hasil dari asongan jadi modal untuk membeli koran. Dia lalu menjual di pinggir jalan sampai akhirnya bisa membeli ruko,” tutur Badrid yang sampai saat ini masih dipertahankan dan jadi toko buku dan penjualan koran.


Setelah berjalannya waktu, penjualan koran miliknya terus meningkat. Dia pernah tembus penjualan dengan jumlah 600 eksemplar tiap harinya. Bahkan saat itu, jadi penjual koran paling laris nomor tiga terbanyak di Karesidenan Kediri. “Nomor satu di Nganjuk,” imbuhnya.


Dari hasil penjualan koran inilah, Munadjat membeli tanah dan membangun yayasan. Keinginan tersebut muncul saat dia merasa miris melihat anak-anak asongan dan kaum duafa yang tidak bisa merasakan sekolah. “Dulu awal-awal dibangun yayasan sekolahan itu ya untuk kaum duafa dan warga sekitar sini yang ingin anaknya sekolah gratis,” ujar Siti Munawaroh, 42, putri kedua Munadjat yang jadi istri Badrid.


Awalnya, sekolahan yang dibangun adalah TK, kemudian MI, MTS, dan MA. Untuk menggaet murid, Munadjat harus berkeliling dari desa ke desa untuk menawarkan teman-temannya atau warga sekitar agar anaknya sekolah di yayasannya. “Dulu itu gratis, jadi murni biaya operasional dan honor guru itu dari hasil penjualan koran Jawa Pos,” tambah Munirul, putra keempat Munadjat.


Namun dengan berjalannya waktu, yayasan sekolah yang didirikan KH Munadjat sudah di bawah naungan Kemenag. Begitupun ponpes Subulul Huda Bogo juga sudah resmi.


Tak hanya itu, dari hasil penjualan koran, Munadjat bisa menyekolahkan kelima anaknya sampai sarjana. Bahkan dia punya cabang 3 di lokasi yakni Nganjuk, Kertosono, dan satu di Caruban Madiun. “Tak hanya anak-anaknya saja yang disekolahkan sampai sarjana. Ada juga beberapa anak dari orang yang dipercayainya itu disekolahkan sampai sarjana juga,” imbuh Munir.


Munadjat memang dikenal sebagai kiai yang sangat dermawan dan baik hati. “Tidak ada perjuangan yang berjalan mulus. Pasti ada saja orang yang usil dan tidak suka,” papar Badrid. Pasalnya saat awal-awal didirikan yayasan sekolah seringkali ada kotoran manusia yang berceceran di kelas. Namun KH Munadjat tidak menghiraukannya dan memilih fokus untuk mengembangkan yayasan dan ponpes. “Saat ini agen tetap dipertahankan, meski penjualan koran sudah menurun, tapi setidaknya bisa untuk membiayai adik bungsu, Imam Ghazali, kuliah,” tandas Munir. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#Dirikan #ponpes #perjuangan