Larangan menjadi pejabat atau pegawai pemerintah di Dusun Sawunggaling tidak membuat warganya terpuruk. Mereka bisa survive karena ikut jejak Ki Punggul. Hingga sekarang, mayoritas mata pencaharian penduduk Sawunggaling adalah bertani.
“Dari 160 kepala keluarga (KK) sekitar 70 persennya adalah petani,” ucap Kaur Keuangan Desa Bagorkulon Gudianto. Sisanya adalah pedagang dan swasta. Mereka yang memilih menjadi pegawai pemerintah sudah keluar dari Dusun Sawunggaling.
Meski tidak menjadi pejabat, masyarakat yang tinggal di Dusun Sawunggaling tidak pernah merasa terpuruk. Mereka percaya apa yang dilakukan Ki Punggul yang babat alas desa itu adalah untuk kebaikan warga di desanya.
Karena itu, mayoritas masyarakat di sana memilih ikut jejak Ki Punggul dengan bertani. Berdasarkan cerita nenek moyang warga Sawunggaling, Ki Punggul yang babat desa bekerja sebagai petani. Ia bersama istrinya, bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Yang ditanam adalah tela, padi, jagung hingga palawija lainnya,” aku Gudianto.
Hasil panen dari tanamannya itu dipakai untuk mencukupi kebutuhan hidupnya bersama istri. Apa yang dilakukan Ki Punggul itu diikuti oleh masyarakat Dusun Sawunggaling.
Dulu warga di sana juga menanam padi dan jagung. Sebagian ketela. Namun seiring berjalannya waktu, pola tanam di lahan pertanian Dusun Sawunggaling mulai berubah. Sawah-sawah yang dulunya ditanam padi mulai beralih menjadi tanaman bawang merah. “Tapi masyarakat di sana tetap bertani,” ujar Gudianto.
Konsep bertani warga di kampung itu tidak hanya sekadar menanam ketika panen hasilnya dijual. Petani di Dusun Sawunggaling bisa membuat pertanian berambang menjadi lebih baik. Misalnya, menyiapkan bibit bawang merah yang bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Bahkan perubahan pola tanam ini cukup menjanjikan karena bisa menciptakan lapangan kerja baru karena butuh banyak buruh tanam.
Menariknya, hasil panen bawang merah di Sawunggaling terbilang bagus. “Panenannya paling tinggi kalau dibanding dusun lainnya di Bagorkulon,” ujar pria 52 tahun itu. Jika datang ke dusun itu, hampir setiap rumah pasti ada hasil tanaman bawang merahnya.
Warga senang bertani karena tetap bisa tinggal di Dusun Sawunggaling. Hasil berambang yang melimpah itu selalu dirayakan dengan cara sedekah bumi. Setiap tahun digelar lewat rangkaian bersih desa. Kegiatan itu dilakukan sebagai wujud syukur dan menghormati leluhur.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah