Masyarakat di Dusun Sawunggaling tidak pernah menganggap pantangan pejabat masuk ke dusun itu sebagai petaka. Mereka percaya, larangan tersebut punya maksud baik yang diturunkan para leluhurnya. Sebab itu, setiap tahun warga selalu menggelar bersih desa untuk menghormati leluhurnya.
Kegiatan bersih desa itu biasa disebut dengan nyadran. Di Dusun Sawunggaling, Desa Bagorkulon, Kecamatan Bagor, kegiatan itu dilakukan rutin setiap tahun. Biasanya digelar sebelum memasuki puasa Ramadan. “Kegiatan ini (bersih desa, Red) sudah ada sejak dulu menjadi tradisi di desa kami,” ujar Kaur Keuangan Desa Bagorkulon, Gudianto.
Gudianto mengatakan, kegiatan tersebut menjadi wujud syukur warga desa kepada Tuhan. Sekaligus untuk menghormati leluhur yang sudah babat desa, yakni Ki Punggul. Ketika melaksanakan nyadran, warga desa biasanya sudah berkumpul sejak pagi hari di sarean (tempat pemakaman umum Dusun Sawunggaling dan Sadang).
Warga desa melaksanakan kerja bakti membersihkan tempat pemakaman umum. “Setelah bersih-bersih itu doa bersama,” imbuh ayah dua anak ini. Untuk menghormati leluhur desa, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan keliling kampung. Rombongan ikut keliling itu biasanya diiringi kelompok masyarakat yang menabuh musik tradisional Jawa.
Dari tempat pemakaman umum, rombongan itu pindah ke makam Ki Punggul dengan jarak sekitar 1 kilometer. Di makam Ki Punggul, masyarakat akan memanjatkan doa kemudian melanjutkan perjalanan ke balai desa. Setelah tiba di balai desa, warga lalu menikmati nasi tumpeng bersama yang berisi hasil bumi. Isinya ada ayam, pisang, umbi-umbian, dan urap-urap.
Gudianto mengatakan, makam Ki Punggul merupakan kebanggaan warga di desanya. Sebab Ki punggul adalah salah satu prajurit di Kerajaan Mataram. Dia kemudian memilih Dusun Sawunggaling untuk disinggahi bersama istrinya. Oleh karena itu, kegiatan nyadran ini sekaligus sebagai bukti rasa bangga masyarakat Sawunggaling. Selain mendoakan, mereka juga mengenang keberanian leluhurnya.
“Kegiatan positif dari kegiatan itu adalah bisa membangun sikap gotong royong. Ini melatih para pemuda dalam merumuskan dan merancang kegiatan, mengambil bagian, berpartisipasi dan mengambil nilai-nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan,” tandas Gudianto.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah