Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perjuangan Puluhan Tahun Guru PPPK di Nganjuk yang Setiap Hari Ngontel ke Sekolah

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 16 Oktober 2023 | 17:21 WIB
OEMAR BAKRI MASA KINI: Nyamintoadi ngontel berangkat mengajar di SDN 4 Kapas kemarin. Dia jadi guru honorer selama 30 tahun
OEMAR BAKRI MASA KINI: Nyamintoadi ngontel berangkat mengajar di SDN 4 Kapas kemarin. Dia jadi guru honorer selama 30 tahun

Nyamintoadi tidak pernah menyangka dirinya masuk dalam daftar pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun ini. Keputusan tersebut ditetapkan Menpan RB Azwar Anas. Dari 600 guru tenaga honorer kategori 1 (THK 1) yang diangkat PPPK, dia guru paling tua di antara yang lainnya.

“Saya sudah tidak berharap banyak untuk diangkat (sebagai ASN, Red),” begitulah kalimat peratama Nyamintoadi ketika mengetahui namanya berada di antara 600 THK1 yang ditetapkan menjadi PPPK tahun ini. Guru berusia 59 tahun itu tidak begitu antusias ketika mendapat kabar baik yang dinanti banyak guru honorer.

Guru SDN 4 Kapas Sukomoro itu akan memasuki masa pensiun tahun depan. Jika dia diangkat sebagai PPPK sesuai dengan ketetapan Kemenpan RB maka masa kerjanya sebagai guru tinggal sembilan bulan saja. Artinya gaji utuh yang bisa diterima sebagai PPPK hanya sembilan bulan saja.

Meskipun gajinya hanya bisa dinikmati sebentar saja, pria asli Kelurahan Kapas, Sukomoro itu mengaku tetap bersyukur. Yang membuat dia tidak terlalu bersemangat adalah kebijakan tersebut belum ditindaklanjuti. “Tidak ada panggilan atau arahan dari dinas terkait,” imbuhnya.

Padahal pengumuman itu sudah beredar sejak awal Oktober lalu tepatnya Senin (2/10). Dinas pendidikan (disdik) maupun Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) belum ada komunikasi terkait dengan pengangkatan tersebut. Karena tidak kunjung dapat kejelasan, dia merasa seperti sedang diberi harapan tapi tidak segera realisasi. Alasan itulah yang membuatnya tidak begitu bersemangat dengan kabar bahagia tersebut.

“Semisal (pengangkatan PPPK, Red) diundur terus, ya sudah saya anggap itu bukan rezeki. Dedikasi saya mengajar selama ini semoga bisa menjadi ladang amal dan pahala,” ucapnya.

Untuk diketahui, guru kelas V di SDN 4 Kapas, Sukomoro masih menggunakan sepeda ontel ketika mengajar ke sekolah. Dia sudah mengabdi selama 30 tahun menjadi guru honorer di sekolah dasar. Lelaki yang kerap disapa Adi ini mulai mengajar sejak 1993. Pada 2000-an, status kepegawaiannya adalah tenaga honorer kategori 1 (THK 1).

Adi sempat tidak percaya ketika menerima kabar ada namanya di data pengangkatan 600 PPPK dari THK1. Saat itu, dia diberitahu sesama guru THK1. Dia menyambut kabar itu dengan suka cita. Di tengah ketidakpastian kapan ia akan diangkat menjadi PPPK, Adi tetap semangat mengajar anak didiknya di kelas V SDN 4 Kapas, Sukomoro.

Sejak lima tahun lalu, Adi hanya menerima gaji sebesar Rp 1,2 juta per bulan dari Pemkab. Gaji tersebut tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, dia tetap memilih bertahan mengajar demi mewujudkan cita-cita negara yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. (ica/rq)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#guru pppk #ngontel bareng #30