Selain terkenal dengan pantangan pejabat yang tidak boleh masuk ke Dusun Sawunggaling, Desa Bagorkulon. Di sana juga ada cerita unik tentang sosok Ki Panggul. Yakni orang yang babat alas Dusun Sawunggaling. Dia dikenal sebagai Prajurit dari Kerajaan Mataram yang ikut menyebarkan agama Islam.
Prajurit-prajurit yang selamat dalam peperangan pada masa Kerajaan Mataram memilih untuk mengembara. Mereka menyebar ke daerah-daerah di tanah Jawa untuk membuka lembaran hidup baru. Salah satunya adalah Ki Punggul.
Sosok lelaki ini dikenal sebagai pria yang memiliki perawakan tinggi. Kebiasaannya adalah mengenakan pakaian Jawa kental warna coklat bergaris hitam lengkap dengan ikat kepala (udeng). “Ki Punggul memilih Desa Bagorkulon. Dialah yang babat alas desa itu dimulai dari Dusun Sawunggaling dan Dusun Sadang,” terang Kaur Keuangan Desa Bagorkulon Gudianto.
Saat babat alas itulah, Ki Punggul termasuk orang yang ikut menyebarkan agama Islam di sana. Hingga kini, masyarakat yang tinggal di Dusun Sawunggaling itu beragama Islam. Di tengah kebiasaan masyarakat yang suka adu ayam, Ki Punggul menemukan ayam jago yang ukurannya lebih kecil dari pada ayam jago lainnya.
Meski berukuran kecil, ayam itu punya keistimewaan. Selalu menang jika diadu. Masyarakat saat itu percaya, ayam milik Ki Punggul itu bukanlah piaraan biasa saja. Keistimewaan pada ungags itu tidak lepas dari kesaktian Ki Panggul yang juga adalah prajurit dari Kerajaan Mataram.
Ayam jago milik Ki Panggul itu terkenal hingga banyak sekali orang yang ingin mendapatkannya. Meski banyak yang ingin membelinya, Ki Panggul ogah untuk menjualnya. Dia hanya mengizinkan bila ayamnya dikawinkan dengan ayam betina milik warga desa.
Jejak Ki Punggul di Desa Bagorkulon masih bisa ditemui. Dia dimakamkan di Dusun Sawunggaling. Warga desa sering menyebutnya kuburan cilik. Setiap malam Jumat legi banyak warga dari Desa Bagorkulon yang datang untuk mendoakan Ki Punggul. Tidak hanya itu, keberadaan makam itu menjadi magnet bagi warga dari luar kota. “Dari dulu, peziarahnya juga banyak dari luar kota. Mereka datang ke sini untuk mendoakan mendiang Ki Punggul,” imbuh ayah dua anak itu.
Bahkan, Gudianto setiap minggu selalu mendatangi kuburan cilik. Selain untuk mendoakan mendiang Ki Punggul, dia juga bersih-bersih area makam. Jika ada warga luar terutama pejabat yang ingin datang ke lokasi makam maka mereka dilarang melintas pintu gapura.
Mereka harus memutar ke dusun lain, masuknya dari Dusun Sadang dulu baru jalan ke Dusun Sawunggaling. Larangan itu harus dipatuhi oleh pejabat. Jika diabaikan mereka bisa celaka atau kena musibah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah