Keunikan Kampung Sengkuni bisa menjadi trademark untuk Desa Bendolo, Sawahan. Keberadaannya bisa memikat wisatawan dari luar daerah. Untuk menunjang potensi tersebut, Pemkab Nganjuk mulai menggali kekayaan lain di kampung itu. Salah satunya adalah meneliti sumber airnya.
Kepala Disporabudpar Kabupaten Nganjuk Sri Handayaningsih melalui Kabid Kebudayaan Amin Fuadi mengatakan, sebutan Sengkuni di Desa Bendolo, Sawahan sudah sangat menjual. Banyak orang yang penasaran. Sebab, nama Sengkuni sangat populer di pewayangan yang memiliki sifat licik, suka adu domba, dan punya banyak intrik.
Rasa penasaran itu bisa menciptakan peluang untuk memikat pengunjung dari luar desa. Orang yang datang ke kampung itu tidak hanya mengenal 18 kepala keluarga (KK) tapi tempat itu harus bisa menyediakan sesuatu yang lebih dari kebiasaan usilnya. Menurut Amin, hal paling memungkinkan untuk menjadi penunjang wisata di sana adalah kekayaan sumber mata air dan potensi air terjunnya. ”Saat ini, tim kami masih melakukan pencarian air terjun dan sumber mata air yang punya daya tarik wisatawan,” ungkap Amin yang tidak ingin menyiakan keunikan Kampung Sengkuni. Lebih jauh, Kampung Sengkuni bisa menjadi ikon Nganjuk.
Keinginan Pemkab Nganjuk mengembangkan wisata di Kampung Sengkuni disambut baik warga di sana. Seperti yang diungkapkan Ketua RT/RW 02 Dusun/Desa Bendolo, Parlan menyebutkan, menyatukan Kampung Sengkuni dengan sejumlah mata air yang ada di Desa Bendolo, Kecamatan Sawahan bukanlah ide yang buruk. Mengingat Gunung Wilis dikenal masyarakat luas sebagai gunung air.
Warganya sudah sangat siap bila Kampung Sengkuni menjadi salah satu destinasi wisata desa di Kecamatan Sawahan. ”Dari dispar (Disporabudpar, Red) sudah sering ke sini. Kadang ikut cangkrukan, ngobrol, lalu juga mencari mata air,” papar Parlan.
Doa mengatakan, warga Kampung Sengkuni tidak pernah menyangka jika kampungnya bisa menjadi branding wisata. Apalagi keusilan mereka. Sebab, sifat usil mereka sudah ada dari zaman nenek moyangnya.
”Tidak pernah ada niat kalau keusilan kami ini dibuat buat. Sejak dulu dari jaman nenek moyang, ya seperti ini. Ini cara kami untuk lebih akrab dan menjadi kompak,” papar lelaki 61 tahun itu.
Parlan pun setuju bila mata air di desanya bisa dijadikan objek wisata. ”Warga Kampung Sengkuni bisa ikut mengantarkan pengunjung ke lokasi mata air. Tidak hanya usilnya saja yang diunggulkan,” ujar bapak tiga anak itu penuh semangat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah