Ada fakta unik di Kampung Sengkuni, Dusun/Desa Bendolo, Kecamatan Sawahan. Kampung itu hanya dihuni 18 kepala keluarga (KK). Mereka juga enggan menjadi perangkat desa atau macung Kepala Desa (Kades) Bendolo. Warga di sana sejak tahun 1980 tidak pernah mendaftar saat ada tes pengisian perangkat desa.
Satu-satunya warga Kampung Sengkuni yang tercatat menjadi perangkat Desa Bendolo, Sawahan adalah Pariman. Dia ditunjuk sebagai modin desa pada 1950. Sekarang jabatan itu lebih populer dengan nama Kaur Kesra. Selain bertugas sebagai mendata tentang pernikahan hingga perceraian.
Dia juga bertugas mengadakan pencatatan pengurusan kematian. “Dialah (Pariman, Red) yang menjadi perangkat desa (modin, Red) terakhir dari Kampung Sengkuni,” ujar Andi Kisworo, Sekretaris Desa (Sekdes) Bendolo, Sawahan.
Pariman meninggal sekitar 1980-an. Setelah itu, tidak ada lagi warga Kampung Sengkuni yang mengikuti jejaknya. Termasuk untuk posisi perangkat yang lain seperti kepala dusun (kasun), kepala seksi (kasi), kepala urusan (kaur), sekdes, atau kepala desa (kades).
Baca Juga: Kenalkan Agung Sri Kuswandari, Pelaku UMKM Asal Nganjuk yang Tembus Pasar di Qatar
Apakah ada pantangan bagi warga Kampung Sengkuni yang ingin menjadi perangkat desa? Andi mengaku tidak ada mitos tentang warga Kampung Sengkuni yang bekerja di pemerintahan desa. Warga Kampung Sengkuni lebih memilih bekerja sebagai petani. “Anak-anak mereka yang kini sudah masuk usia kerja kini sedang kuliah dan banyak pula yang memilih bekerja di luar desa,” imbuhnya.
Keterangan Andi tersebut dibenarkan oleh Parlan, Ketua RT02/RW02, Kampung Sengkuni. Dia juga menegaskan, warga di kampungnya tidak pernah mencalonkan diri atau mendaftar untuk menjadi perangkat di Pemdes Bendolo. “Tidak ada pantangan. Lebih enak bertani ”ujar Parlan.
Yang mungkin menjadi beban ketika menjadi perangkat adalah tidak bisa melepas sifat usil yang sudah menjadi bawaan sejak lahir. Hal itu pula yang dialami Modin Pariman yang berasal dari Kampung Sengkuni. Sebagai warga asli Kampung Sengkuni, Pariman juga punya sifat usil.
Pekerjaan mayoritas warga di Kampung Sengkuni adalah bertani. Di jam tertentu kampung itu akan sepi. Sebab, pada saat pagi hingga siang hari, warganya berada di ladang mencari rumput. Situasinya mulai ramai sekitar pukul 13.00-15.00, saat itu warga kampung mulai rehat dan cangkruk di salah satu rumah warga.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah