Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kenalkan Agung Sri Kuswandari, Pelaku UMKM Asal Nganjuk yang Tembus Pasar di Qatar

rekian • Senin, 2 Oktober 2023 | 21:26 WIB

Photo
Photo

Agung Sri Kuswandari tidak hanya ibu rumah tangga (IRT) biasa. Sejak 2022 lalu, dia memutuskan menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bawang merah. Berkat keuletannya, bawang merah olahannya tidak hanya laris di dalam negeri. Produknya kini sudah diekspor hingga ke Qatar.

“Bawang goreng milik saya sudah dikurasi empat hari di Surabaya,” aku perempuan yang kerap disapa Asri itu. Rasa percaya diri Asri sebagai pelaku UMKM semakin menanjak setelah produknya dinyatakan lolos kurasi. Gayung bersambut, November 2022 lalu, ada pameran UMKM di Jakarta Convention Center (JCC).

Tidak ingin membuang kesempatan, perempuan 55 tahun itu memutuskan ikut dalam pameran tersebut. Pameran UMKM itu menjadi wadah yang sangat penting baginya untuk menunjukkan kualitas produknya. Momentum itu pula menjadi peluang baginya untuk mempromosikan produk ke luar daerah. Di luar dugaannya, berambang goreng miliknya diminati.

Karena kualitas yang bagus, pangsa pasarnya tidak hanya diminati warga Kota Angin. Produknya sudah merambah ke provinsi di Jawa hingga luar pulau Jawa. Yang membuatnya bangga, berambang gorengnya dilirik hingga ke luar negeri. Bawang gorengnya sudah dijual hingga ke Qatar.
Sebelum produknya laku hingga luar negeri, Asri mengaku sempat mengubah haluan jenis usahanya. Sebelum masuk kurasi, dia sempat memproduksi sambal bawang, sambal cumi, hingga bawang putih goreng. Karena sudah terlalu banyak yang membuat produk tersebut, dia akhirnya mencari yang khas dari Nganjuk. Yang akhirnya memilih bawang goreng.

Perempuan asal Kelurahan Cangkringan, Kecamatan Nganjuk itu mengatakan, perjalanannya menjadi pelaku UMKM tidaklah sebentar. Butuh proses yang panjang. Terutama saat dirinya harus memilih memproduksi berambang goreng. Dia percaya, untuk menjadi pelaku bisnis UMKM yang tangguh butuh banyak pengalaman.

Selain jam terbang yang tinggi, faktor lain yang menjadi penyemangatnya adalah dukungan keluarga. Suami dan kedua anaknya kerap memberi motivasi. Bahkan anak-anaknya selalu menjadi alarm untuk mengingatkan Asri yang ingin sekali umrah dari hasil jerih payahnya sendiri.
Seperti Ervan Dani Handoyo, anak pertamanya, tidak pernah bosan memberi semangat kepada ibunya. “Ayo, Mama pasti bisa. Ingat, Mama punya keinginan untuk umrah jadi harus berhasil,” ucap lelaki 35 tahun itu ketika memotivasi sang ibu.

Photo
Photo


Sehari Kantongi Rp 5 Juta di Pameran JCC
Pameran di Jakarta Convention Center (JCC) menjadi pintu masuk bagi Agung Sri Kuswandari untuk menjalani bisnis berambang goreng. Hari pertama membuka lapak di JCC, produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) miliknya langsung ludes.

Berambang goreng yang dia kemas di toples itu diborong oleh perusahaan packing makanan. “Saya masukan produk itu ke dalam koper 20 inch dan keranjang baju,” ucap Asri yang lupa jumlah berambang goreng yang dibawa ke pameran. Meski tidak ingat berapa kilogram berambang goreng yang dibawa ke pameran, Asri tidak lupa jumlah uang yang diterima dari perusahaan packing.

Saat itu, ibu dua anak itu menerima uang dari perusahaan sebanyak Rp 5 juta. Uang tersebut didapat hanya dalam sehari saja. Padahal pameran di JCC itu dibuka selama tiga hari. Di hari kedua mereka sudah tidak ada barang yang dijual. Perusahaan yang memborong berambang goreng datang lagi ke lapak milik Asri.

Di hari kedua itu, perusahaan packing mengajaknya untuk bekerja sama. “Ada penandatanganan kerja sama pakai MoU (Memorandum of Understanding, Red),” kenang Asri penuh semangat. Tidak ingin membuang peluang, Asri lalu menyetujui kerja sama itu. Keuntungan lain yang didapat Asri adalah jaringan bisnis yang semakin meluas.

Saat pameran itu berlangsung, Asri mengenal pelaku UMKM lainnya. Salah satunya tinggal di Qatar. Perkenalan itu berlanjut hingga produk berambang goreng milik Asri bisa masuk ke pasar Qatar. “Alhamdulillah produknya (bawang merah goreng, Red) sudah sampai sana,” aku Asri sambil melempar senyum.

Photo
Photo


Oktober ini, produk berambang goreng milik Asri akan mendarat lagi di Qatar. Sebanyak lima kilogram bawang merah goreng miliknya akan ikut pameran produk UMKM di Qatar. Pameran akan berlangsung cukup panjang. Rencananya akan berlangsung sampai Maret 2024 mendatang.

Sebelum pameran di Qatar dimulai, sudah permintaan dari salah satu hotel di Qatar. “Hotel itu memesan 150 kilogram bawang merah goreng. Namun saat ini masih proses negosiasi,” ungkap Asri. Pesanan sebanyak itu harus melalui proses dan tahapan yang benar. Mulai dari jadwal produksi hingga ke pengirimannya harus terencana dengan baik.

Salah satu persyaratan dari hotel di Qatar itu adalah pembelian produk tidak menggunakan label. Asri, tidak mempermasalahkannya. Yang penting produknya laku dan yang membuat produk itu adalah dia. Tidak hanya di Qatar, sistem penjualan tanpa label pun akan dilayani untuk pasar Indonesia.

Sementara itu, Joko Handoyo, 65, suami Asri, sangat mendukung usaha yang dilakukan istrinya. Dukungan itu dia tunjukkan lewat dengan membeli bahan mentah, memasaknya, hingga proses mengemas. “Saya dukung kegiatan positif istri. Yang penting bisa bermanfaat. Dan sekaligus beribadah,” ujar Joko.

Photo
Photo

Pilih Bawang Merah Tajuk agar Kriuk saat Dimakan
Ada banyak jenis bawang merah di Kota Angin. Agar kualitas produknya tetap bagus, dia tidak sembarangan memilih bahan baku. Perempuan 55 tahun asal Kelurahan Cangkringan, Nganjuk itu memilih berambang jenis tajuk. Alasannya karena saat penggorengan lebih cepat dibandingkan jenis lainnya.

“Dari segi penampilan dan tekstur, jenis berambang tajuk sangat bagus,” ungkap Agung Sri Kuswandari. Perempuan yang kerap disapa Asri itu mengatakan, daya tahan kriuk jenis tajuk dijamin lama. Kriuk pada berambang tajuk menurutnya lebih unggul dibandingkan dengan jenis lainnya. 

Dia membandingkan dengan bereambang jenis bauji. Berambang tersebut menurutnya membutuhkan waktu yang lama ketika proses penggorengan. Agar dapat hasil yang maksimal maka perlu dua kali penggorengan. “Kalau jenis bauji, penampilan akhirnya setelah digoreng itu coklat tua. Kurang menarik,” beber Asri. 

Untuk persediaan bahan baku, Asri selalu menyiapkan stok bawang merah di rumahnya sebanyak dua kuintal. Agar dapat bawang yang bagus, dia langsung kulakan ke petani di Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso. Saat awal-awal produksi, dia hanya memakai 10 kilogram berambang. Namun setelah digoreng beratnya menyusut jadi 1,3 kilogram. 
 
Per kilogramnya dibanderol seharga Rp 300 ribu. Harga tersebut khusus untuk berambang yang menggunakan kemasan toples. Jika dijual tanpa toples dan tanpa label harga menjadi Rp 230 ribu per kilogram. “Tujuan utama saya menjual bawang merah goreng adalah karena Kabupaten Nganjuk ini lumbungnya berambang. Saya ingin menunjukkan, Nganjuk punya makanan khas dari berambang,” tuturnya.

Sebagai pelaku UMKM, Asri berharap seluruh pelaku UMKM di Kabupaten Nganjuk bisa memiliki jalur pemasaran yang semakin maju dan berkembang. Sehingga produknya bisa diekspor ke beberapa negara.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#umkm #irt #Qatar #brambang