Aksi pencurian jagung semakin menggila. Sudah tiga desa yang lahan jagungnya disatroni maling. Lokasinya berada di Desa Patihan dan Desa Nglaban di Kecamatan Loceret serta Desa Pacekulon, Kecamatan Pace. Petani yang merasa waswas sawahnya jadi sasaran meningkatkan kewaspadaan. Mereka berjaga di sawah saat larut hingga subuh.
Nasib apes dialami Sumariyadi, 44, warga Desa Nglaban, Kecamatan Loceret. Rencananya panen jagung gagal. Dia kalah cepat dengan kawanan pencuri. Tiga hari sebelum panen, pencuri lebih dulu menggondol jagungnya. Pencuri jagung itu beraksi pada Selasa (26/9) malam. Dia kalah cepat dengan maling yang menggasak jagungnya.
“Jagungnya hanya tersisa sedikit,” ujarnya dengan nada lemas. Akibat kehilangan jagung tersebut, Sumariyadi mengalami kerugian hingga jutaan rupiah. Untuk melindungi petani lain dari ulah pencuri jagung, dia memilih untuk melaporkan kejadian itu ke polisi. Harapannya pelaku bisa diringkus dan petani di Kota Angin merasa aman saat bercocok tanam.
Peristiwa pencurian itu menyebar dengan cepat. Para petani di luar Desa Nglaban, Loceret meningkatkan kewaspadaannya. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah dengan memaksimalkan penjagaan. Khususnya pada saat malam hari. Mereka bersiaga, menjaga tanamannya sejak dini hari hingga subuh. Para petani kompak menjaga tanamannya secara bergantian. Khususnya untuk tanaman jagung yang sedang memasuki waktu panen.
Seperti yang dilakukan Suwarji, 66, warga Desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro. Menjelang panen, bapak tiga anak yang menggarap sawah di Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro meningkatkan penjagaannya. “Sekarang usia jagung saya sudah lebih 60 hari. Kira-kira 10 atau 20 hari lagi bisa dipanen,” terangnya.
Karena tidak ingin didahului pencuri, dia mengaku terus mengontrol tanaman jagungnya. Dia mulai bergegas ke sawah selepas salat Isya. Dengan membawa headlamp, dia beberapa kali menyenteri lahan jagungnya seluas 60 ru tersebut. Dia tidak hanya mengawasi lahannya tetapi juga milik temannya.
Setelah berjaga dan berkeliling hingga larut, pria yang kerap disapa Mbah Ji itu lalu pulang. Dia akan digantikan temannya yang juga petani yang punya lahan di sana. Selain bergantian dengan temannya sesama petani, dia juga meminta bantuan warga dari Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro.
Cara bergantian itu dianggap efektif untuk mencegah terjadinya aksi pencurian. Apalagi mereka melakukannya hingga menjelang subuh. Sejauh ini, lahan jagung di tempatnya masih aman dari aksi pencuri.
Pantauan wartawan koran ini, petani lain di Kelurahan Kapas, Sukomoro terlihat bergantian menjaga lahannya. Mereka tampak kompak. Sepertinya bukan hanya Mbah Ji yang khawatir jagungnya dicolong. Petani lain di Kelurahan Kapas tidak ingin peristiwa pencurian di Kecamatan Pace dan Kecamatan Loceret yang terjadi beberapa waktu yang lalu menimpa mereka.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah