Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

20 Makam Tua di Warujayeng Nganjuk Gunakan Potongan Artefak Candi, Kok Bisa?

rekian • Jumat, 29 September 2023 | 20:51 WIB

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Batu nisan di pemakaman Kujon Manis berada Lingkungan Kujon Pengkol, Kelurahan Warujayeng, Tanjunganom masih menggunakan artefak. Dinas kepemudaan, olahraga, kebudayaan dan pariwisata (disporabudpar) menemukan 20 makam tua yang memakai potongan artefak.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disporabudpar Amin Fuadi menjelaskan, artefak yang ada di pemakaman itu berasal dari batu andesit. Diperkirakan batu-batu tersebut adalah potongan dari struktur candi atau tempat ibadah di lokasi makam. “Batu nisan menggunakan artefak itu di makam tua harus diganti,” ujarnya.

Sebelum dilakukan penggantian, disporabudpar akan berkoordinasi dengan warga setempat dan keluarga pemilik makam di sana. Nisan dari artefak itu nanti diganti dengan batu nisan biasa.
Batu nisan dari artefak itu nanti akan dikumpulkan dan dijadikan satu dengan potongan lainnya. “Masyarakat yang nanti akan mengganti batu nisan tersebut,” terangnya. Untuk menggantikan nisan tersebut, Amin mengaku butuh waktu agak lama.

Sementara itu, Aris Trio Effendy, pegiat sejarah Nganjuk mengungkapkan, batu nisan yang dipakai tidak hanya dari batu andesit ada satu yang menggunakan batu kapur. “Yang nisannya menggunakan batu kapur diduga didatangkan dari masyarakat luar Nganjuk,” ungkap Arus.

Photo
Photo


Batu nisan berbahan batu kapur itu tidak dapat diganti karena bukan bagian dari artefak yang berbahan batu andesit. Sebanyak 20 makam yang menggunakan artefak sudah ditandai dengan cara dibungkus meng­gunakan kain putih.

Meski nisan dari batu andesit itu nanti diganti, disporabudpar meyakini lokasi Makam Kujon layak dijadikan sebagai situs sejarah. Apalagi nanti dikelola dengan baik dan mendapat dukungan dari pemerintahan di kelurahan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kelurahan Warujayeng punya komitmen untuk mengembangkan makam tersebut menjadi lokasi wisata sejarah. Mereka berencana membuat museum mini sebagai tempat untuk mengumpulkan benda-benda bersejarah yang ditemukan di lokasi makam.

Tempat tersebut menjadi layak untuk dijadikan kawasan sejarah karena pada 1869 pernah ditemukan Prasasti Hering. Prasasti berisi tentang perdagangan dan tanah itu menjadi bukti bahwa kawasan itu sudah dihuni sejak masa Pu Sindok, 934 Masehi.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#warujayeng #candi #Makam tua #artefak