Tradisi Gombak Kuncung di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan akan terus ada. Warga di sana sepakat untuk melestarikan tradisi tersebut. Karena Gombak Kuncung sudah turun-temurun. Apalagi, model rambut itu juga tidak ada sisi negatifnya.
“Gombak Kuncung ini sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Ngliman,” ujar Katimin, 56, warga Dusun Bruno, Desa Ngliman. Saat masih ada keturunan dari ayahnya yang merupakan warga asli Ngliman maka tradisi Gombak Kuncung akan tetap ada. Karena setiap anak Ngliman selalu diminta untuk melestarikan tradisi tersebut.
Apalagi, kata Katimin, Gombak Kuncung juga memiliki banyak manfaat. Salah satunyanya adalah anak Gombak Kuncung itu mudah dikenali. Karena rambut panjang di bagian unyeng-unyeng belakang kepala untuk anak laki-laki atau Gombak dan poni panjang untuk perempuan yang disebut Kuncung hanya ada di Ngliman. Jika anak Gombak Kuncung tersesat di luar desa maka akan dengan mudah ditemukan. Belum lagi, nilai-nilai luhur dari tradisi itu. Yaitu, mencegah anak nakal.
Selain mengenalkan tradisi Gombak Kuncung ke warga Desa Ngliman, warga di sana juga sosialisasi ke warga luar desa. Setiap perempuan luar Desa Ngliman yang dinikahi pria setempat akan diceritakan tradisi itu. Kemudian, saat mereka melahirkan anak maka anaknya akan menjadi anak Gombak Kuncung. Sehingga, tradisi Gombak Kuncung ini menjadi warisan warga setempat.
Hal itu seperti yang dialami Sunarti, 38, perempuan asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Prambon. Dia dinikahi Lunari 40, warga Desa Ngliman. Sebelum menikah, dia tidak tahu sejarah dan tradisi tersebut. Namun, setelah menikah, akhirnya dia mendapat cerita Gombak Kuncung. “Jadi awalnya ya nggak tahu. Terus selama menikah sampai hamil itu tahu sendiri dari cerita-cerita ibu mertua,” ungkapnya.
Ketiga anaknya menjadi anak Gombak Kuncung. Anak pertamanya perempuan bernama Devi sudah memotong kuncungnya delapan tahun yang lalu. Sementara kedua anak kembarnya Azka dan Azmi saat ini masih berusia empat tahun dan masih memelihara gombaknya.“Tidak masalah mengikuti tradisi Gombak Kuncung,” ungkap Sunarti.
Bagian yang tak pernah terpisahkan dari kehidupan masyarakat ini juga tentunya tak memberatkan bagi Sunarti. Karena tak ada tuntutan yang memberatkannya selama memiliki keturunan dari keluarga yang mempertahankan tradisi Gombak Kuncung.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah