Gombak Kuncung Hilang jika Menikah dengan Pria Luar Desa
Warga Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan tidak berani menghilangkan tradisi Gombak Kuncung untuk anak-anaknya. Selama mereka tinggal di Desa Ngliman, sang anak harus menjalani tradisi Gombak Kuncung hingga balig.
Namun demikian, ada salah satu cara yang diyakini warga setempat jika ingin tidak mengikuti tradisi Gombak Kuncung maka harus memutus rantai lewat pernikahan dengan pria luar Desa Ngliman.
“Kalau perempuan Desa Ngliman menikah dengan pria asal luar Desa Ngliman maka anak mereka tidak perlu Gombak Kuncung,” ungkap Lasmirah, 71, salah satu sesepuh Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan. Hal itu dialami oleh Sugiarti, 49, anak pertama Lasmirah. Anaknya tidak masuk anak Gombak Kuncung. Penyebabnya, Sugiarti menikah dengan pria asal luar Desa Ngliman.
Sayang, Lasmirah tidak bisa menjelaskan alasan tradisi Gombak Kuncung putus saat perempuan Desa Ngliman menikah dengan pria luar desa. Tidak ada yang menceritakan alasan kenapa tradisi Gombak Kuncung putus setelah menikah dengan pria luar desa.
Namun, diduga putusnya tradisi unik ini karena Gombak Kuncung mengikuti darah atau keturunan dari ayah. Jika ayahnya asli Ngliman maka anaknya harus Gombak Kuncung dan sebaliknya. Ini karena tradisi Gombak Kuncung itu muncul sebab warga meyakini jika mereka adalah keturunan dari Ki Ageng Ngaliman. Sosok leluhur Desa Ngliman ini merupakan orang yang misterius. Tidak ada yang berani membuka jati dirinya. Karena khawatir akan tertimpa musibah.
Lasmirah mengatakan, untuk wanita luar Desa Ngliman yang menikah dengan pria asal Ngliman maka anaknya harus menjadi anak Gombak Kuncung. Jika laki-laki maka rambutnya sejak lahir hingga balig dibiarkan panjang untuk bagian belakang kepala atau unyeng-unyeng. Sedangkan, untuk perempuan bagian depan atau poni, harus dibiarkan panjang. Semuanya sampai balig.
Karena itu, anak-anak di sana, memiliki model rambut yang unik. “Jadi bisa kelihatan anak ini anak Gombak Kuncung atau tidak dari model rambutnya,” ungkap Lasmirah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah