Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gara-Gara PPDB Jalur Zonasi, Lembaga Bimbingan Belajar di Nganjuk Ada di Ujung Tanduk

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 28 Agustus 2023 | 20:49 WIB

SERIUS: Siswa mengikuti proses belajar mengajar di lembaga bimbingan belajar.
SERIUS: Siswa mengikuti proses belajar mengajar di lembaga bimbingan belajar.

Perubahan sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) berdampak pada lembaga bimbingan belajar (LBB). Besarnya porsi penerimaan siswa dari jalur zonasi di sekolah negeri tingkat SD, SMP, dan SMA telah menggilas semangat belajar di lembaga bimbingan belajar. Calon siswa baru sudah tidak punya greget mengejar nilai terbaik.

MOTIVASI belajar pada siswa mengalami penurunan drastis saat ini. Hal ini terlihat dari sepinya siswa di lembaga bimbingan belajar (LBB). ”Sekarang siswa saya bisa dihitung dengan jari,” ujar Ali, salah satu guru LBB di Kabupaten Nganjuk.

Karena itu, di LBB-nya tidak ada kelas terbatas dan reguler. Semuanya dianggap sama. Hal ini berbeda saat PPDB SMPN dan SMAN menerapkan sistem danum atau tes.

Hal tersebut juga dialami Ganesha Operation (GO). Kepala GO Nganjuk Imron Masruri mengatakan, jumlah siswa yang belajar di lembaganya terus menurun. “Dulu, setiap tingkatan sekolah banyak yang les. Mulai dari SD kelas 1-6, SMP kelas 1-3 hingga SMA pasti full kelasnya,” ujarnya. Jika dijumlah, total semua siswa yang belajar di lembaganya bisa mencapai 500 siswa. Sekarang, jumlah siswa paling banyak 300 siswa.

Mereka yang banyak belajar hanya kelas XII. Biasanya, siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Adapun siswa SD dan SMP sedikit yang belajar di tempatnya. Dia merasakan, antusias siswa untuk belajar di lembaganya juga mengalami penurunan.

“Saat masih ada tes tulis untuk PPDB, siswa yang les di sini pasti belajar persiapan tes,” terang pria asal Blitar itu. Para siswa yang ikut les selalu semangat belajar.

Mereka yang aktif ikut bimbel sebagian besar adalah kelas XII untuk persiapan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Mereka yang aktif ikut bimbel sebagian besar adalah kelas XII untuk persiapan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Situasinya sangat berbeda jika dibandingkan dengan sekarang, siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah negeri cenderung malas belajar. Hal itu disebabkan karena mereka sudah tahu pasti akan diterima di sekolah negeri.

Adapun mereka yang rumahnya jauh dari sekolah, selalu mencari cara agar bisa lolos jalur zonasi. Cara yang paling mudah adalah dengan titip kartu keluarga (KK).

Sebagai tenaga pendidik di lembaga bimbingan belajar, dia menyebut perlu adanya pembenahan syarat PPDB. Dia mengusulkan, tetap ada tes tulis dalam satu zona. Sehingga yang dapat menggeser calon siswa bukan lagi jarak terdekat melainkan dari nilai tes tulis tersebut. “Jadi menurut saya, tetap harus ada tes, selama ini kan calon siswa pasti saling geser karena jarak rumah,” tutup Imron.

DARING: Dua siswa yang ikut lembaga bimbel menunjukan aplikasi yang berisi modul dan buku saku yang bisa di-download.
DARING: Dua siswa yang ikut lembaga bimbel menunjukan aplikasi yang berisi modul dan buku saku yang bisa di-download.

Pandemi Covid-19 Semakin Memperburuk
Jumlah siswa yang belajar di lembaga bimbingan belajar (LBB) terus tergerus. Selain karena sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang memberikan porsi besar pada jalur zonasi, faktor lainnya adalah karena pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 menyebabkan aktivitas lembaga bimbingan belajar harus tiarap. Lembaga itu tidak bisa buka kelas karena selama pandemi metode belajarnya adalah dengan cara online. Lembaga bimbingan belajar pun terpaksa buka kelas daring demi bertahan di masa pandemi.

Kepala Ganesha Operation (GO) Nganjuk Imron Masruri mengaku, harus beradaptasi. Salah satunya adalah dengan memberlakukan digitalisasi di buku saku dan modul pembelajaran. “Materi pelajaran bisa langsung didownload di aplikasi,” katanya.

Hal yang sama juga berlaku untuk pendistribusian materi. Semuanya dilakukan lewat daring seperti google drive dan email. Dirinya mengaku menyiapkan forum khusus bagi siswa dengan mentor. Pria yang sudah lima tahun di GO Nganjuk itu mengakui, selama pandemi covid-19, minat siswa yang belajar di lembaga bimbingan belajar mengalami penurunan drastis. Kurang dari 50 persen dari total siswa pada situasi normal.

Yang paling bertahan saat itu hanya pembelajaran kursus bahasa. Meski situasi pandemi virus Covid-19, proses belajarnya tetap berjalan. Hanya berbeda metode pembelajaran, yang semula menggunakan tatap muka beralih menjadi daring.

SEPI: Guru di LBB mengajar matematika. Jumlah siswa menurun karena PPDB jalur zonasi dan pandemi Covid-19.
SEPI: Guru di LBB mengajar matematika. Jumlah siswa menurun karena PPDB jalur zonasi dan pandemi Covid-19.

Hal yang sama juga dirasakan guru les Bahasa Inggris SMAN 2 Nganjuk, Santi. Sebelum pandemi, dia bisa mengajari lima siswa yang les Bahasa Inggris di rumahnya. Namun karena pandemi, tidak ada lagi siswa yang les dengannya. Situasi itu terjadi sampai sekarang. Tidak ada siswa yang belajar di rumahnya diperparah oleh sistem zonasi. Menurutnya, sistem itu membuat minat belajar siswa juga menurun.

“Saat ini sudah tidak ngelesi sama sekali, soalnya memang menurun banget sejak pandemi,” ujarnya. Dia menambahkan, untuk saat ini, tidak ada siswa reguler yang les di rumahnya. Dia mengaku, yang ingin les kebanyakan karena untuk persiapan kuliah.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pendidikan #bimbel #ppdb #sekolah