Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kenalkan! Inilah Atlet Nasional Paralympic dari Kabupaten Nganjuk

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 28 Agustus 2023 | 20:43 WIB
BERPRESTASI: Eka Puspita Anggraini meraih banyak medali emas.
BERPRESTASI: Eka Puspita Anggraini meraih banyak medali emas.

Eka Puspita Anggraini tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga. Dia juga berhasil mengharumkan Kabupaten Nganjuk di kancah internasional. Berkat kerja kerasnya, atlet paralympic itu berhasil menyabet tiga medali emas pada pertandingan bulu tangkis di Malaysia.

ASEAN Deaf Games Kuala Lumpur 2022 menjadi ajang yang tak terlupakan bagi Eka Puspita Anggraini. Saat itu, atlet bulu tangkis yang kerap disapa Anggi tersebut berhasil memborong tiga medali emas. Pelajar 15 tahun itu berhasil memenangkan tiga pertandingan bergengsi di ajang internasional. Ia mendapatkan medali tunggal putri, ganda putri, dan beregu putri.

“Saya senang bisa membanggakan orang tua,” tulis Anggi di gawainya ketika menjawab pertanyaan wartawan koran ini di rumahnya Kelurahan Werungotok, Nganjuk. Dari hasil kerja kerasnya itu, Anggi yang terlahir sebagai anak dengan keterbatasan fungsi pendengaran itu berhasil mendapat hadiah uang senilai Rp 1,3 miliar. Uang hadiah itu dia investasikan untuk membeli rumah seharga Rp 300 juta di Kelurahan Begadung, Kecamatan Nganjuk. Sisanya dia tabung untuk keluarga dan kebutuhan dirinya.

Kesuksesan yang diraih Anggi di usia belia itu tidak didapat dengan mudah. Siswi SMAN 2 Nganjuk itu berlatih dengan keras sejak dirinya berusia tujuh tahun. Pelajar yang berpenampilan tomboi itu langsung dilatih ayahnya, Jhoni Tri Wahyudi. Pria yang selalu mendampingi putri sulungnya itu mengaku, sudah melihat bakat pada sang anak sejak kecil. “Anggi memang aktif sejak kecil. Sukanya mukul-mukul,” kenang Jhoni.

Dari situlah, pria 52 tahun itu mengarahkan keaktifan Anggi untuk kegiatan yang positif. Awalnya, Jhoni mulai mengajak Anggi untuk ikut dirinya latihan badminton. Ketika itu, Anggi hanya melihat dan menunggu ayahnya latihan bulu tangkis di Gedung Olahraga (GOR) Bung Karno. Dari kebiasaan itu, Anggi perlahan merasa tertarik dan ingin ikut bermain. Jhoni sengaja melakukan trik itu agar sang anak tidak merasa terpaksa. Keinginan bermain badminton muncul dari diri sendirinya. Jika si anak sudah senang, Jhoni bisa melatihnya dengan baik.

Sekeras apapun latihan yang diberikan, jika sudah senang maka akan terasa ringan. Itulah tujuan Jhoni. Upayanya pun sukses. Anggi berlatih sejak usia dini. Dari latihan itulah, kini dia sudah bisa memetik hasil yang manis. “Saya dukung sepenuhnya, hingga sekarang menjadi atlet paralympic (atlet penyandang disabilitas, Red),” ungkap Jhoni.

Di tingkat nasional, Anggi juga mengharumkan nama daerahnya. Dia mewakili Nganjuk meraih medali emas di Peparnas XVI 2021 Papua. Dia menoreh prestasi meraih juara 1 tunggal putri klasifikasi Tuna Rungu Tuna Wicara (TRTW). Dia berharap putrinya terus semangat berlatih dan memberikan yang terbaik bagi orang tuanya dan negaranya di kancah internasional.

SABET MEDALI EMAS: Anggi foto bersama peraih medali di cabor bulutangkis paralympic. Dia berhasil menjadi juara 1.
SABET MEDALI EMAS: Anggi foto bersama peraih medali di cabor bulutangkis paralympic. Dia berhasil menjadi juara 1.

Target Raih Medali Emas di Paris
Masa depan Anggi cukup panjang di kancah internasional. Dia punya peluang besar untuk mengumpulkan medali emas di bidang olahraga bulu tangkis paralympic. Salah satu yang dibidik adalah pertandingan badminton paralympic di Paris pada 2024 nanti.

Pelajar 15 tahun itu sudah mempersiapkan diri dari sekarang. “Bismillah, semoga bisa dapat medali emas,” ungkap Anggi yang ditulis lewat gawainya. Siswi SMAN 2 Nganjuk itu sangat antusias menyambut pertandingan tersebut meski pelaksanaannya digelar satu tahun lagi.

Untuk persiapannya, dia terus berlatih. Agar mental juara terus terasah, dia juga akan mengikuti berbagai kompetisi di tingkat nasional. Perjuangan untuk meraih mimpinya di ajang internasional tidaklah gampang.

Anggi selalu ikut latihan fisik dan teknis setiap hari. “Latihannya sore dan pagi,” aku Anggi. Pada saat pagi, dia akan berlatih selama 2,5 jam. Yakni pukul 04.00 sampai pukul 06.30. Kemudian, dilanjutkan latihan teknis. Dilakukan sejak pukul 14.00 sampai 17.30. Tempat latihannya berada di wisma atlet yang dinaungi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Surabaya.

Di wisma atlet KONI Surabaya, Anggi berlatih bersama rekan sesama atlet lainnya. Dia menjadi salah satu atlet paralympic di sana. Karena di gembleng di wisma atlet KONI Surabaya, dia harus mengikuti pelajaran sekolah secara online.

Lalu, untuk mematangkan persiapan ke ajang internasional, Anggi selalu diikutkan pertandingan bulu tangkis paralympic tingkat nasional. Terdekat, dia akan ikut Kejurprov Jatim 2023. Rencananya kompetisi itu digelar pada Selasa (26/9). Setelah itu, akan ikut sirkuit nasional (sirnas) yang akan diselenggarakan di Semarang pada September nanti. Jadwal berikutnya digelar tahun depan yakni pada Juli 2024 di Medan dan ajang internasional di Paris pada Oktober 2024. 

BANGGA: Anggi tampil sebagai putri batik Smada Nganjuk di karnaval tingkat SMA.
BANGGA: Anggi tampil sebagai putri batik Smada Nganjuk di karnaval tingkat SMA.

Meriahkan HUT RI dengan Biaya Sendiri
Sebagai atlet paralympic badminton, Eka Puspita Anggraini lekat dengan sosok yang tomboi. Kesan itu diperkuat dari penampilannya, berambut pendek dan hobi mengenakan kaus dan celana panjang. Di balik sosoknya yang tegas, Anggi rupanya ingin tampil anggun.

Keinginannya itu terwujud ketika ada karnaval peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Republik Indonesia. Anggi mengajukan diri mewakili SMAN 2 Nganjuk untuk memeriahkan kegiatan tersebut. Demi mewujudkan mimpinya untuk tampil anggun di karnaval, Anggi meminta restu ayahnya, Jhoni Tri Wahyudi. Setelah mendapat lampu hijau dari ayahnya, anak pertama dari tiga bersaudara itu meminta izin pulang kampung. Gayung bersambut, pelatih memenuhi permintaannya. Begitu juga dengan guru di SMAN 2 Nganjuk. Ia ditunjuk menjadi putri batik dari sekolah tersebut.

“Peran saya di karnaval sebagai pelajar sekaligus atlet paralympic. Saya ikut karnaval karena ini cara kami ikut memeriahkan hari kemerdekaan,” ungkap Anggi yang disampaikan lewat sang Ayah.

Anggi pun tampil di karnaval tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA yang diselenggarakan pada Sabtu (19/8) lalu. Agar tampil sempurna, Anggi harus mengeluarkan biaya sendiri ke tempat rias. Untuk menjadi Putri Batik, dia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 2,5 juta. Hari itu, atlet paralympic itu tampil beda. Dia tampak anggun. Membuat orang yang mengenalnya menjadi pangling.

Pihak sekolah sangat senang mengetahui Anggi secara sukarela mengajukan diri ikut karnaval. Mewakili sekolahnya, Anggi menjadi putri batik pada karnaval Sabtu (19/8) lalu. “Saya sangat bangga memiliki murid seperti Anggi. Luar biasa sekali. Sebagai atlet paralympic, dia bahkan mengajukan diri sendiri untuk menjadi peserta karnaval dengan sukacita dan swadana,” ucap Kepala SMAN 2 Nganjuk dr Rita Amalisa. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#paralympic #nasional #kabupaten nganjuk #atlet