NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Dua bunker di Dusun Jatirejo, Desa Mojoduwur, Ngetos telah menyedot perhatian pengunjung. Para wisatawan berbondong-bondong datang ke sana karena penasaran. Bangunan peninggalan sejarah itu punya peluang besar menjadi cagar budaya.
Dua bangunan bekas peninggalan Jepang itu sudah memenuhi syarat untuk menjadi cagar budaya. Dari segi usia, bangunan itu sudah berumur lebih dari 80 tahun. Dibangun oleh Jepang, bunker itu digunakan untuk persembunyian tentara Nippon. Keberadaan bunker itu, menjadi bagian dari sejarah masa lalu. Ketika masyarakat masih terjajah.
Karena telah memenuhi syarat cagar budaya, masyarakat setempat berharap pemerintah daerah bisa menjadikannya sebagai tempat wisata. “Jika bunkernya bisa dijadikan cagar budaya dan menjadi tempat wisata sejarah, harapan kami bisa mengangkat ekonomi warga yang tinggal di sini (Dusun Jatirejo, Desa Mojoduwur, Red),” ungkap Lasini.
Baca Juga: Gara-Gara Ini Kecamatan Rejoso Jadi Surganya Berambang Merah di Nganjuk
Perempuan 54 tahun warga Dusun Jatirejo, Desa Mojoduwur, Ngetos meyakini, dua bunker itu bisa menarik minat pengunjung. Selain menjadi daya tarik wisatawan, menjadikan bunker sebagai cagar budaya adalah wujud perhatian terhadap nilai-nilai sejarah. Warga setempat juga tidak ingin sejarah masa lalu nenek moyangnya di sana lenyap begitu saja.
Jalan untuk menjadikan dua bunker itu sebagai cagar budaya agaknya masih terjal. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Amin Fuadi mengaku, belum bisa memfasilitasinya. Salah satu kendala yang dihadapi adalah karena lokasi kedua bunker itu masih berada di kawasan tanah milik perusahaan umum kehutanan negara (perum perhutani).
Proses untuk menjadikannya bangunan bersejarah di lahan perhutani pasti akan memakan waktu lama. Oleh sebab itu, Amin mengklaim, Pemkab Nganjuk sekarang fokus pada objek wisata alam.
Kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, Amin mengaku belum ada langkah untuk menjadikan bunker itu sebagai tempat wisata baru. “Kami sudah dengar keinginan masyarakat untuk jadikan bunker sebagai tempat wisata. Tapi kami belum melangkah ke sana,” akunya. Dia juga mengungkapkan, tim cagar budaya pun belum melakukan penanganan khusus untuk kedua bunker di Desa Mojoduwur tersebut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah