NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Bunker di Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos menjadi magnet wisatawan saat Agustusan. Karena di momen Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia itu, warga ingin mengenang perjuangan para pahlawan. Objek-objek wisata atau tempat bersejarah yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan RI menjadi yang paling banyak dituju. “Saya penasaran dengan bunker zaman penjajah. Jadi, sengaja ke sini,” ujar Abdillah, 24, warga Kabupaten Lamongan.
Awalnya, Abdillah hanya mendengar cerita tentang bunker di Desa Mojoduwur. Untuk membuktikannya, dia sengaja datang jauh-jauh ke Kota Angin. Ternyata, bunker di Desa Mojoduwur ada dua. Lokasinya berjarak sekitar 50 meter. Bunker tersebut berbentuk setengah lingkaran. Tinggi sekitar 2,5 meter dengan kedalaman sekitar 4 meter. Bunker tersebut terbuat dari batu, batu bata, dan kerikil. Bangunan itu dicor. Sehingga, sangat kuat. Sayang, dua bunker tersebut tidak ada pintunya. Kabarnya, dulu bunker tersebut memiliki pintu besi.
Saat di bunker, Abdillah dan teman-temannya berfoto di sana. Mereka wefie. “Mau saya upload di medsos,” ujarnya.
Terpisah, Sarmin, 53, warga Dusun Jatirejo, Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos mengatakan, saat Agustus, pengunjung bunker lebih ramai dibanding hari biasa. Pengunjung tidak dipungut retribusi atau karcis masuk. Parkir juga gratis. “Bunker belum menjadi objek wisata. Hanya sekadar bangunan sejarah,” ujarnya.
Sarmin mengatakan, pengunjung bunker berasal dari Kota Angin dan luar kota. Mereka umumnya penasaran dengan bunker. Sehingga, kedatangan mereka hanya ingin melihat langsung dan mencoba merasakan di dalam bunker.
Terpisah, Aris Trio Effendy, budayawan dan sejarawan di Bidang Kebudayaan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk menjelaskan, dua bunker di Desa Mojoduwur dibangun pada tahun 1942-1943. Bunker tersebut dibangun untuk persembunyian tentara Jepang saat menghadapi tentara Sekutu. “Yang membangun bunker itu adalah warga Nganjuk yang menjadi romusha,” ujarnya.
Selain jadi tempat persembunyian, Aris mengatakan, bunker dipakai sebagai tempat mengintai musuh. Karena itu bentuknya dibuat setengah lingkaran dan ada lubang di kanan dan kiri pintu masuk. Di lubang itu, tentara Jepang mengintai dan menembak lawannya. “Bunker juga jadi tempat menyimpan senjata dan bahan bakar tentara Jepang saat itu,” imbuhnya.
Aris mengatakan, dua bunker tersebut adalah peninggalan sejarah. Karena itu, tidak boleh dirusak. Pengunjung yang datang hanya diizinkan melihat dan foto-foto di sekitar lokasi.
Editor : Anwar Bahar Basalamah