Momentum Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 selalu diperingati dengan kegiatan yang unik. Mulai dari karnaval, lomba panjat pinang, hingga kreasi lomba yang mengocok perut. Apapun jenis kegiatannya, tujuannya tidak jauh dari nilai-nilai persatuan, gotong royong, dan semangat juang.
Di Kota Angin, kemeriahan peringatan 17 Agustus 1945 dibuka dengan kegiatan karnaval dan gerak jalan. Para peserta antusias mengikutinya. Ada yang berdandan seperti pejuang, mengenakan pakaian ala petani, hingga memakai kostum seperti zaman kerajaan.
Penampilan mereka selalu memukau penonton. Selain gerak jalan dan karnaval, di sudut-sudut kampung juga tidak kalah seru. Mereka menggelar perlombaan yang kerap membuat penonton terpingkal-pingkal menikmatinya.
Baca Juga: Seperti Apa Profil Desa Cepoko di Kecamatan Berbek, Ini Potensinya
Seperti di Kelurahan Mangundikaran, Nganjuk, pada Jumat (11/8) lalu warga di Perumahan Puri Mangundikaran menggelar dua perlombaan diikuti bapak-bapak dan ibu-ibu. Dua kegiatannya adalah lomba estafet tongkat kelapa dan maraton paralon. ”Yang ikut lomba khusus RW 8. Ada empat RT,” ungkap Bakhtiar Alim, selaku Ketua RT 04 RW 08.
Gelak tawa dan teriakan penonton membuat perlombaan semakin meriah. Seperti lomba estafet tongkat kelapa. Ibu-ibu yang sudah berusia paruh baya harus megap-megap karena berlari membawa buah kelapa ke garis start. Yang membuat penonton terpingkal ketika ada peserta yang jatuh saat berlari. Meski sempat tersungkur, ibu-ibu itu langsung bangkit untuk melanjutkan perlombaan.
Ketika berlari, matanya melotot dan mengerahkan semua tenaga agar bisa sampai di garis start. Ibu-ibu itu menunjukkan semangat juang yang tinggi untuk menang lomba. Hal yang sama juga terjadi pada peserta bapak-bapak. Saking semangatnya menyodok buah kelapa menggunakan tongkat, sasaran hampir nyemplung ke parit.
Melihat buah kelapanya hampir menggelinding ke parit, salah satu peserta refleks menendangnya. Melihat itu, para penonton langsung tertawa. Tendangan buah kelapa itu berlanjut menjadi sepak bola kelapa karena tongkat mereka tidak kuat menyodok kelapa yang ada di track yang mendaki.
Kekocakan yang sama juga terjadi saat maraton paralon. Ibu-ibu tampak ngos-ngosan karena harus berpindah tempat dengan cepat sembari membawa paralon berisi bola pingpong.
Baca Juga: Petani Berambang Asal Gondang Pilih Tanam Tajuk saat Bulan Agustus
”Alhamdulillah, warga jadi kompak. Bisa guyub,” aku Ketua RT 04 yang berusia 47 tahun itu. Dia menambahkan, lomba tersebut digelar setiap tahun saat Agustusan. Untuk biaya pelaksanaan lomba, warga patungan membayar iurannya. Uang iurannya sesuai dengan kemampuan warga.
Warga yang ikut pun merasa terhibur dengan kegiatan tersebut. Salah satunya adalah Soidah, 53, mengatakan, kegiatan Agustusan ini digelar dari warga dan untuk warga. ”Senang bisa kumpul dengan warga dan tetangga lain,” ungkap perempuan yang ikut berpartisipasi di acara tersebut dengan penuh antusias.
Gali Ide Permainan Baru dari Anak Muda
Setiap Agustusan, lomba di lingkungan Perumahan Puri Mangundikaran selalu berubah. Butuh waktu satu bulan untuk mempersiapkan lomba tersebut. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Lombanya harus dikemas dengan menarik.
Karena lombanya dituntut selalu baru, panitia harus mencari ide segar agar peserta yang ikut lomba tidak bosan. Untuk mendapatkan refrensi jenis-jenis perlombaan, mereka biasanya mengajak anak-anaknya yang masih muda untuk berkontribusi untuk ikut memikirkan jenis perlombaannya. Selain menggandeng anak muda, mereka juga mengamati perkembangan perlombaan di media sosial seperti di YouTube dan TikTok.
Dari beberapa permainan, mereka akhirnya memutuskan untuk menggelar estafet tongkat kelapa dan maraton paralon dengan bola pingpong. ”Tahun lalu lomba pecah air dan maraton paralon yang isinya air. Kali ini, marathon paralonnya dimodifikasi dengan isi bola dan yang baru estafet tongkat kelapa,” jelas Bakhtiar Alim, selaku ketua RT 04 RW 08.
Baca Juga: DPRD Susun Ulang Keanggotaan Alat Kelengkapan Dewan setelah PAW
Saat memutuskan ide tersebut, mereka langsung memikirkan teknisnya. Mulai dari peserta hingga bentuk permainannya. Dari jumlah peserta, setiap perlombaan dibatasi hanya 12 peserta saja. Karena ada empat RT maka tiap RT harus membagi empat grup. Masing-masing, tiga orang di tiap grupnya.
Untuk perlengkapan, panitia menyediakan semua peralatannya. Untuk lomba estafet tongkat kelapa menggunakan tongkat pramuka dan buah kelapa hijau. Tongkat estafetnya jadi alat untuk mendorong kelapa hijau sampai ke garis finish.
Karena estafet, tiap orang dapat tugas masing-masing. Orang pertama bertugas mengambil buah kelapa menuju ke garis start dan orang kedua mengambil tongkat. Dua orang itu bekerja sama mendorong buah kelapa hingga ke garis finish. Di garis finish sudah ada orang ketiga yang menunggu. Ketika buah kelapa itu sampai di garis finish maka tugas orang ketiga melanjutkan dengan mendorong kelapa itu hingga kembali ke garis start. ”Buah kelapa itu harus didorong dengan tongkat. Siapa paling cepat, dia yang menang,” jelas Sri Winarsih, 43, salah satu peserta lomba asal RT 2.
Baca Juga: Fauzi Irwana Jadi Bacaleg DPRD Kabupaten Nganjuk, Berangkat dari Partai Nasdem
Setelah selesai dengan perlombaan estafet tongkat kelapa, dilanjutkan dengan perlombaan marathon paralon. Jenis lomba ini juga hanya menggunakan dua alat. Yakni berupa paralon atau pipa yang sudah dibelah menjadi dua. Masing-masing paralon berukuran satu meter. Jumlahnya tiga, dan diberi satu buah bola pingpong. “Jarak garis start sampai finish sekitar 10 meter. Karena ini lomba untuk ibu-ibu dan ada yang sudah berumur, maka ada sedikit keringanan,” tutp Winarsih-sapaan akrab Sri Winarsih.
Wahyudi, 43, selaku ketua panitia kegiatan lomba mengaku senang. Acara yang dia gelar bisa sukses. ”Masyarakat antusias. Semangat mereka tinggi, terutama ibu-ibu. Semoga lomba selanjutnya berjalan dengan lancar lagi,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah