Desa Cepoko, Kecamatan Berbek bertekad menjadi Desa Wisata. Jembatan gantung Cepoko yang diprakarsai Jawa Pos Radar Nganjuk kerja sama dengan Maybank Syariah dan Daarut Tauhid (DT) Peduli, Sungai Kuncir, dan buah duku menjadi andalan.
Desa Cepoko mempunyai modal menjadi Desa Wisata di Kecamatan Berbek. Desa tersebut dipisahkan Sungai Kuncir yang indah. Aliran sungai yang deras dengan berbatuan besar-besar menjadi daya tarik wisatawan menikmati keindahan alam. Batu-batu besar itu juga jadi bahan membuat kerajinan, seperti wastafel.
Kemudian, ada Jembatan Cepoko. Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Bayeman dan Tahunan itu diprakarsai Jawa Pos Radar Nganjuk. Sebelum ada jembatan itu, warga harus menyeberang Sungai Kuncir dengan cara berenang saat musim hujan atau melompat dengan pijakan batu-batu saat musim kemarau. Sejak diresmikan Bupati Marhaen Djumadi pada 2 November 2021 hingga sekarang, warga tidak lagi bingung menyeberangi Sungai Kuncir.
”Jembatan Cepoko ini sangat penting dan bermanfaat,” ungkap Ahmad Thaib, 63, warga Desa Cepoko.
Baca Juga: Petani Berambang Asal Gondang Pilih Tanam Tajuk saat Bulan Agustus
Selain itu, Desa Cepoko juga penghasil buah duku. Duku di sana rasanya khas. Sayang, branding Duku Cepoko belum dikenal masyarakat. ”Padahal Duku Cepoko itu paling manis rasanya dibandingkan duku dari daerah lain,” ungkap Thaib.
Sayang, potensi itu belum dimaksimalkan untuk peningkatan perekonomian masyarakat setempat. Melihat hal itu, Direktur Jawa Pos Radar Kediri Kurniawan Muhammad memiliki ide untuk mengembangkan Desa Cepoko menjadi desa wisata. ”Potensi Desa Cepoko menjadi desa wisata sangat besar,” ujarnya.
Untuk mewujudkan ide tersebut, Kum-panggilan akrab Kurniawan Muhammad berencana menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Jawa Pos Radar Nganjuk akan berkolaborasi dengan UMM membantu mewujudkan Cepoko menjadi Desa Wisata. ”Kami akan undang Pak Rektor dan tim UMM melihat langsung potensi Desa Cepoko,” ujarnya.
Keinginan Kum tersebut disambut antusias Kepala Desa Cepoko M. Kholid Isyikandar dan warga. Kholif juga ikut mendampingi Kum dan rombongan saat melihat potensi Desa Cepoko pada Selasa (8/8). ”Kami setuju Desa Cepoko menjadi desa wisata,” ujar Kholid.
Baca Juga: Pangkas Pengeluaran, The Carnival Nganjuk PHK 30 Karyawan
Kades dua periode ini mengatakan, dia akan bermusyawarah dengan warga di sekitar bantaran Sungai Kuncir dan warga setempat terkait rencana mewujudkan Desa Wisata. ”Kalau tujuan desa wisata ini untuk peningkatan perekonomian masyarakat, saya rasa warga akan mendukung,” ujarnya.
Kholid mengucapkan banyak terima kasih atas kepedulian Jawa Pos Radar Nganjuk kepada Desa Cepoko. Karena adanya pemberitaan tentang warga yang harus berenang untuk salat Jumat, Desa Cepoko akhirnya memiliki jembatan gantung. Warga tidak lagi berenang di Sungai Kuncir untuk berangkat salat Jumat atau ke balai desa. Mereka juga tidak perlu memutar sekitar empat kilometer jika mengendarai sepeda motor.
Jembatan di Desa Cepoko Harus Terawat agar Tahan Lama
”Kami bersama-sama merawat jembatan ini agar jembatannya tetap kuat,” ungkap Ahmad Thaib warga setempat. Pria 63 tahun itu mengatakan, cara warga merawat jembatan itu sangatlah sederhana. Caranya, warga tidak akan melebihi kapasitas saat melintas. Mereka rela antre untuk bergantian ketika berjalan menyeberang jembatan yang lebarnya hanya 1,2 meter dengan panjang 65 meter tersebut. Begitu pula dengan kendaraan bermotor, harus memprioritaskan pejalan kaki dan tidak membonceng orang dewasa.
Pria yang rambutnya sudah memutih itu mengungkapkan, warga desanya punya kesadaran yang tinggi untuk menjaga jembatan itu. Bagaimanapun, keberadaan jembatan perintis itu sangat lah dibutuhkan. Mereka sudah merasakan dampak positif dari jembatan tersebut. Anak-anak sekolah tidak perlu lagi menyeberang sungai. Selain itu pemilik kendaraan bermotor yang tinggal di seberang sungai bisa memanfaatkan akses jembatan itu dengan mudah.
Karena sudah dua tahun beroperasi, warga sudah terbiasa melintas meski kondisi jembatan masih sering bergoyang. ”Dulu, awal-awal jembatan ini selesai dibangun masih banyak yang takut. Sekarang sudah biasa,” papar bapak dua anak itu kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Baca Juga: DPRD Susun Ulang Keanggotaan Alat Kelengkapan Dewan setelah PAW
Bukan hanya warga yang jalan kaki, tetapi juga mereka yang menggunakan sepeda motor. “Sing tatag pasti banter (Yang berani, pasti tancap gas, Red),” ujarnya ketika melihat ada pengendara motor yang lewat. Meski jembatan yang menghubungkan Dusun Tahunan dan Dusun Bayeman ini masih kokoh, dia tidak memungkiri ada beberapa titik kawat pengaman yang mulai bolong karena termakan usia.
”Perlu sedikit ada perbaikan agar kerusakannya tidak melebar,” pintanya. Termasuk juga ada pijakan yang patah perlu segera ditangani. Baginya, warga yang memanfaatkan jembatan tersebut sudah maksimal menjaga jembatan agar tetap kokoh.
Hal itu mereka tunjukkan dengan mematuhi aturan kapasitas maksimal. Dan aturan pengendara bermotor. Seperti yang dilakukan Hanifatul, 32. Keberadaan jembatan tersebut memudahkan dirinya untuk menjemput keponakannya yang sekolah di MI Darul Muta’alimin menggunakan motor .“Sudah biasa lewat, aman-aman saja,” ujarnya.
Baca Juga: Polres Nganjuk Sediakan Latihan di Lintasan Ujian SIM saat Sore
Menurut perempuan yang saat itu mengenakan kaus hitam, kendaraan bermotor tidak bisa jalan pelan-pelan.Seperti diketahui, jembatan gantung yang diresmikan pada 2021 itu memiliki ketinggian sekitar 10 meter. Pengendara bermotor selalu menghindari goyangan agar tetap bisa menjaga keseimbangan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah