NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Pengelola The Carnival melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Tak tanggung-tanggung, karyawan yang dipecat mencapai puluhan orang. “Awalnya karyawan kami ada 40 orang, sekarang hanya tersisa 10 karyawan,” ungkap Rizky Pramudya, pengelola The Carnival.
PHK puluhan karyawan tersebut bukan karena kinerja karyawan yang buruk. Tidak pula karena karyawan melakukan kesalahan atau pelanggaran. Namun, karena semata-mata dilakukan untuk menekan biaya operasional. Pengunjung di The Carnival semakin sepi. Kerugian setiap bulan sekitar Rp 20 juta. Salah satu upaya menekan cost adalah dengan memangkas biaya pengeluaran upah karyawan. “Sekarang hanya tersisa 25 persen karyawan,” ujarnya.
Dengan karyawan yang hanya 10 orang maka The Carnival tidak lagi buka malam hari. Sepuluh karyawan itu dimaksimalkan menjaga dan merawat wahana yang ada di lahan seluas 1,2 hektare. Sebab, jika dipaksakan beroperasi hingga malam hari seperti rencana awal menjadi Nganjuk Night Spectacular (NNS), kerugian akan semakin membengkak.
Pengusaha muda asli Nganjuk ini mengatakan, dengan melakukan PHK puluhan karyawan dan mengubah jam operasional, biaya operasional turun drastis. Hitungan pengelola, penurunan biaya operasional mencapai 50 persen. Harapannya, The Carnival tidak terus mengalami kerugian.
Baca Juga: DPRD Susun Ulang Keanggotaan Alat Kelengkapan Dewan setelah PAW
Karena baru 10 bulan beroperasi, kerugian yang dialami The Carnival sekitar Rp 200 juta. Itu belum termasuk dana investasi yang kabarnya mencapai miliaran rupiah untuk menyulap Taman Rekreasi Anjuk Ladang (TRAL) yang sebelumnya mangkrak.
Rizky mengatakan, The Carnival itu membutuhkan high maintenance atau perawatan yang ekstra. Karena wahana permainan di sana banyak. Ada juga mini zoo. Butuh tenaga banyak untuk merawat objek wisata yang merupakan aset Pemkab Nganjuk tersebut. “Sebenarnya 10 karyawan itu tidak ideal atau kurang untuk merawat The Carnival,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwasata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk Sri Handariningsih mengakui jika pengunjung di The Carnival sepi. Itu terlihat dari penjualan tiket di sana. Karena untuk tiket masuk tersebut ada sharing dengan pemkab.
Handariningsih-panggilan akrab Sri Handariningsih mengatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan The Carnival sepi pengunjung. Salah satunya adalah berbagai event yang digelar pengelola berbarengan dengan agenda. Seperti, peresmian Taman Nyawiji saat tahun baru.
Baca Juga: Fauzi Irwana Jadi Bacaleg DPRD Kabupaten Nganjuk, Berangkat dari Partai Nasdem
Kemudian, ada acara Pulang Kampoeng di Alun-Alun Nganjuk pada April lalu. “Akibatnya pengunjung tersedot ke Taman Nyawiji dan Alun-Alun Nganjuk,” ujarnya.
Handariningsih mengatakan, Disporabudpar akan berusaha membantu menghidupkan The Carnival. Karena The Carnival itu kerja sama antara pemkab dengan pihak ketiga. “Kami akan bantu mempromosikan,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah