Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Petani Garbis di Kelurahan Mangundikaran Nganjuk Gagal Panen, Ini Pemicunya

rekian • Senin, 7 Agustus 2023 | 22:15 WIB

 

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- ­Petani garbis di Kelurahan Mangundikaran, Nganjuk harus gigit jari. Sebab, pertumbuhan garbis yang mereka tanam satu bulan lalu kerdil. Daunnya mengering. Kondisi tersebut membuat petani garbis gagal panen.

“Sudah dua tahun tidak panen (garbis, Red),” keluh Mimin Hidayah. Petani 44 tahun asal Kelurahan Mangundikaran itu heran, garbis miliknya tidak bisa tumbuh dengan sempurna. Padahal dia dan petani lainnya sudah memperkirakan tanaman tersebut akan berhasil jika ditanam saat musim kemarau.

Para petani di Kelurahan Mangundikaran itu tidak tahu persis penyebab pertumbuhan garbisnya kerdil. Padahal mereka sudah menyiapkan pupuk KNO yang memiliki kandungan kalium dan nitrat untuk membantu pertumbuhan tanaman. Tapi, hasilnya masih belum maksimal.

Akibat gagal panen tersebut, petani harus mengalami kerugian jutaan rupiah. Seperti Mimin, sudah mengkalkulasikan 100 ru lahan garbis miliknya rugi Rp 2 juta. Kerugian itu tidak termasuk waktu dan tenaganya. Dia semakin terpuruk karena lahan yang digarap itu harus sewa ke orang lain.

Baca Juga: Ini yang Digunakan Petani untuk Melakukan Ombyok Berambang Merah Nganjuk

Ibu dari tiga anak itu memastikan jika tanaman garbis miliknya tidak bisa panen karena di usia 36 hari tanamannya tidak berbuah. Seharusnya, pada saat usia satu bulan garbis sudah berbuah. Sebelum masuk usia dua bulan, mereka sudah bisa memetik hasil panennya. “Kalau normal petani sudah bisa panen usia 53 hari sampai 54 hari,” ungkapnya.

Tidak hanya lahan milik Mimin yang mengalami kerdil, lahan garbis petani lain juga sama. Seperti Nurtomo, punya lahan 300 ru semuanya ditanam garbis. Dia mengaku heran dengan kondisi tanaman garbis milik para petani di sana. “Tidak ada hama yang menyerang,” akunya.

Pria yang kini berusia 60 tahun itu menduga penyebab kerdilnya garbis miliknya karena cuaca. Saat siang, suhu udaranya sangat panas dan malam menjadi dingin sekali. Ditambah lagi, setiap malam anginnya sangat kencang. “Banyak petani garbis yang akhirnya meninggalkan lahannya begitu saja. Karena sudah gagal panen,” imbuhnya.

Nurtomo yang juga warga Kelurahan Mangundikaran itu menjelaskan, ciri-ciri tanaman garbis yang gagal panen adalah bentuk tanaman tidak sehat. Yakni mengkerut dan daunnya menguning. Dan yang paling kelihatan adalah tidak berbuah padahal usianya sudah lebih dari satu bulan.

Baca Juga: Inilah Persiapan Paskibraka Kabupaten Nganjuk jelang Upacara HUT ke-78 Kemerdekaan RI

Jika saja tidak gagal, petani bisa meraup keuntungan yang berlimpah. Untuk 125 ru lahan garbis pemasukan untuk petani bisa Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Karena sekarang gagal panen, ketersediaan buah garbis ini semakin berkurang. Di pasar, harganya sudah naik. Garbis yang biasanya dibanderol seharga Rp 5 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 10 ribu per kilogramnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#petani #kekeringan #kemarau #garbis