Pedagang bibit atau petani bawang merah di Kecamatan Wilangan butuh modal yang tidak sedikit untuk merawat umbi berambang yang disimpan di gudang. Untuk pedagang, mereka tidak hanya membayar buruh ombyok tapi juga harus mengeluarkan uang untuk membeli ikatan ombyok dari bambu. Pedagang bibit memilih bambu daripada tali rafia untuk ikat ombyokan karena lebih kuat dan tahan lama.
”Lagi susah cari bambu untuk ikat berambang di pasar,” ujar Mamik, pedagang asal Desa Ngudikan, Wilangan. Menurut perempuan berusia 58 tahun itu, pedagang di pasar tidak selalu menyediakan ikat ombyok dari bambu. Seperti saat ini, dia kesulitan mendapatkan bahan untuk ombyok meski sudah keliling di beberapa pasar.
Jika pedagang pasar tidak menyediakannya maka Mamik harus membelinya dari warga yang punya tanaman bambu. Kalau dibeli ke pemilik bambu maka tugas Mamik adalah menyayatnya agar siap untuk dijadikan ikat ombyok.
Baca Juga: Inilah Persiapan Paskibraka Kabupaten Nganjuk jelang Upacara HUT ke-78 Kemerdekaan RI
“Di pasar, bambunya sudah disayat tapi masih berukuran besar,” ungkap Mamik. Potongan bambu yang sudah disayat itu nantinya disayat lagi menjadi lebih kecil. Harga di pasar Rp 35 ribu per ikat.
Untuk memenuhi kebutuhan bibit tiga ton, dia memerlukan tiga ikat sayatan bambu. Kalau ambil tiga ikat, harganya jadi Rp 100 ribu.
Dengan menggunakan ikat dari sayatan bambu, buruh ombyok itu tidak bisa mengikat ombyok bawang merah sekenanya. Ketika nanti bibit itu digantung di gudang, tidak akan jatuh. ”Kalau diikat pakai tali rafia malah ambyar dan nggak bisa tahan berbulan-bulan karena pasti rapuh kena sinar matahari saat penjemuran,” terangnya.
Karena itu, tugas buruh ombyok harus pula memastikan jika ikatannya kuat tidak membuat ombyokan bibit jadi ambyar. Buruh ombyok akan menggoyang-goyangkan ikatan bibit bawang merah ketika digantung di dalam gudang.
Baca Juga: Mengintip Tradisi Siraman di Objek Wisata Air Terjun Sedudo
Dengan cara itu, bibit bawang merah yang disimpan dalam waktu lama tidak akan membuat ikatannya lepas. Bambu yang digunakan untuk mengikat akan tetap kuat. ”Ya pokoknya mau petani atau pedagang bibit, semua butuh modal yang sama untuk perawatan bawang merah,” pungkas Mamik.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah