Siraman Sedudo sudah digelar sejak zaman Majapahit. Tradisi tersebut terus dilestarikan turun temurun oleh warga Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan. Kegiatan digelar lewat sedekah bumi dan upacara pengambilan air suci dari Air Terjun Sedudo. Masyarakat percaya tradisi tersebut memiliki banyak manfaat.
Tahun ini prosesi Siraman Sedudo di Air Terjun Sedudo, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan digelar pada Kamis (03/8). Tepat pada 15 Sura. Pemerintah daerah mulai mempopulerkan upacara tersebut sejak kepemimpinan Bupati Nganjuk Suprapto. “Secara kontinu digelar pada masa kepimpinan Bupati Soetrisno,” ujar Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Amin Fuadi.
Sebelumnya, tanpa campur tangan pemerintah daerah, warga Desa Ngliman, Sawahan selalu rutin melaksanakan prosesi Siraman Sedudo. “Sekarang pemerintah daerah hadir ikut melaksanakan tradisi tersebut sebagai upaya nguri-uri budaya, melestarikan tradisi dari nenek moyang,” ucap Amin kepada wartawan koran ini saat ditemui di ruangan kerjanya pada Jumat (4/8).
Pria yang tinggal di Kelurahan Mangundikaran, Nganjuk itu menjelaskan alasan prosesi Siraman Sedudo harus melibatkan remaja yang masih perjaka dan gadis. “Aturan gadis dan perjaka itu sudah sejak turun temurun. Karena sesi pengambilan air suci harus dilakukan oleh orang yang suci juga,” jelas Amin.
Baca Juga: Ngebet Seragam Loreng, Rp 30 Juta Melayang
Nah, remaja yang masih gadis dan perjaka itu tergolong orang-orang yang masih suci. Selama prosesi Siraman Sedudo, para peserta tidak dianjurkan mengenakan warna merah. “Maka dari itu, para peraga prosesi Siraman yang gadis, tidak boleh ikut jika sedang datang bulan (haid, Red),” tandasnya.
Amin juga menjelaskan, ada empat alur kegiatan yang dilakukan setiap bulan Sura. Yakni doa setiap 1 Muharram, dilanjutkan dengan Siraman Sedudo, dan kirab pusaka,. Kemudian diakhiri dengan kegiatan jamasan pusaka. “Keempat kegiatan itu adalah alur yang melengkapi tradisi Siraman Sedudo. Setelah jamasan pusaka dilakukan maka kegiatan tradisi itu sudah terpenuhi,” pungkas Amin.
Pengunjung Naik Dua Kali Lipat
Air Terjun Sedudo masih menjadi objek wisata andalan Pemkab Nganjuk. Dibuka sejak 1987, wisatawan yang datang tidak hanya menikmati kesejukan dan keindahan alam di sana. Pengunjung yang datang ke sana biasanya akan mandi dan menenteng pulang air sedudo dalam jeriken berisi 5 liter.
Mereka yang tidak membawa jeriken akan memanfaatkan botol air mineral berukuran 600 mili liter hingga 1,5 liter. Masyarakat percaya, Air Terjun Sedudo bisa membuat tubuh menjadi awet muda. Apalagi bagi mereka yang mandi di bawah guyuran air tersebut.“Tidak hanya awet muda saja. Manfaat air sedudo juga bisa memberikan keturunan bagi yang belum memiliki momongan.
Dan juga dipercaya bisa mendatangkan jodoh bagi yang belum menikah,” ungkap Sri Handariningsih, Kepala Disporabudpar Nganjuk.
Handariningsih mengaku senang terhadap antusias masyarakat yang melestarikan budaya dari leluhur. Apalagi setiap Sura, jumlah pengunjung ke lokasi wisata selalu meningkat. Pada Juli 2023, kenaikannya dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya.
“Hasil rekap pada Juli lalu jumlah pengunjung mencapai 4.613 orang,” ujarnya. Angka itu lebih tinggi bila dibandingkan dengan Juni. Pada saat Juni, jumlah pengunjungnya mencapai 2.417 orang. Dia mengatakan, kenaikan jumlah pengunjung itu disebabkan karena 1 Sura jatuh pada Juli lalu.
Saat 1 Sura, banyak wisawatan yang datang berkunjung ke Air Terjun Sedudo. “Bahkan ada juga pengunjung yang menginap, mendirikan tenda di pinggir jalan,” ungkapnya. Tidak ada larangan untuk mendirikan tenda di tepi jalan asalkan mereka tidak sampai masuk ke area wisata.
Baca Juga: Tarik Wisatawan, Disporabudpar Gelar Siraman Sedudo setiap Tahun
Handariningsih mengatakan, kunjungan di objek wisata Air Terjun Sedudo pada 2022 mencapai 33.144 orang. Di tahun ini, mulai dari bulan Januari hingga Juli, tercatat sudah 23.107 pengunjung. Handariningsih menyampaikan, kenaikan jumlah pengunjung bisa untuk mendongkrak ekonomi pariwisata dan ekonomi para penjual makanan.
Manfaat dari meningkatnya jumlah pengunjung dirasakan oleh penjual makanan di area wisata Air Terjun Sedudo. “Alhamdulillah kalau jumlah pengunjung sedang ramai, pendapatan bersih dalam satu hari bisa mencapai Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Itu dari jualan sego kuning saja,” ungkap Yatirah, 62, penjual sego kuning, warga Desa Ngliman, Sawahan.
Rawan, Wisatawan Dilarang Mandi di Bawah Guyuran
Insiden satu orang pengunjung yang tewas tertimpa longsor pada pada Selasa (14/2) lalu membuat Pemkab Nganjuk harus menutup area Air Terjun Sedudo. Hingga sekarang, pengunjung dilarang mandi di bawah guyuran air.
“Sekarang sudah aman, akan tetapi kami dan para petugas di tempat wisata bermaksud memberikan keamanan bagi semua pengunjung,” jelas Sri Handariningsih, Kepala Disporabudpar Kabupaten Nganjuk.
Handariningsih menjelaskan, setelah terjadinya musibah longsor awal tahun lalu, pihaknya bersama anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk telah memperbaiki bagian atas air terjun. “Kami sudah membenahinya. Dan di atas air terjun sudah ada saringannya yang juga rutin dibersihkan,” terangnya.
Walau kondisinya sudah aman. Pengunjung masih dilarang mandi di bawah guyuran air terjun. Larangan itu masih berlaku. Kepala dinas perempuan ini mengatakan, larangan tersebut akan dicabut setelah adanya evaluasi atau diskusi bersama pihak-pihak terkait.
Baca Juga: Ini Syarat Menjadi Buruh Ombyok Berambang Nganjuk
“Untuk sementara, pengunjung hanya diperbolehkan berada di sekitar kolam airnya saja. Mengambil airnya tidak apa-apa, asalkan tidak mandi di bawah guyuran air terjun,” tambahnya.
Saat selesai prosesi siraman sedudo pada Kamis (3/8) lalu, para pengunjung memang diperbolehkan mandi sekaligus mengambil air. Namun setelah itu, petugas tempat wisata langsung menutup kembali pagar area yang sudah diberi tulisan peringatan. Di sana ada tulisan, dilarang mandi di bawah air terjun.
Para pengunjung merasa kecewa tidak bisa mendi di bawah air terjun. Bagi sebagian wisatawan percaya bila air terjun bisa membuat awet muda. “Saya lumayan sering ke sini. Dengan adanya larangan tersebut, sebenarnya sedikit kecewa karena tidak bisa seru-seruan di bawah air terjun.,” ungkap Risna Atika, 26, pengunjung asal Kecamatan Tanjunganom
Meski begitu, dia menyadari jika keamanan menjadi hal yang utama. Yang terpenting masih bisa bebas foto-foto di area kolam dan menikmati kulinernya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah