Menjadi buruh ombyok ternyata tidak sembarangan orang. Buruh ombyok harus orang-orang yang berpengalaman. Karena jika tidak berpengalaman, ombyokan berambang menjadi tidak rapi. Akibatnya, pembeli enggan membeli bibit berambang tersebut.
“Harus dibongkar jika ombyokan berambang tidak rapi,” ujar Tanem, 66, salah satu pedagang bibit dari Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan. Hal itu akan membuat rugi pemilik bibit berambang. Karena upahnya akan dobel. Kemudian, waktunya jadi lebih lama.
Karena itu, buruh ombyok yang dipakai adalah orang yang berpengalaman. “Ini sudah pekerja tetap di sini yang ngombyok. Kalau bawang merahnya banyak baru cari tenaga tambahan, itu pun juga harus saya lihat cara dia ngombyok,” ujar Tanem.
Baca Juga: Ini Jangka Waktu Kerja Pekerjaan Ombyok Berambang Nganjuk
Karena itu, saat di gudang bibit bawang merah lagi ngombyok pada Selasa (1/8) ada tiga orang yang melamar, terpaksa ditolak. Karena Tanem tidak mau ambil risiko. Apalagi, tiga orang tersebut bukan warga setempat. “Nanti nggak rapi, bisa-bisa kerja dua kali,” papar ibu satu anak itu.
Sementara itu, Mustakimatin, 63, buruh ombyok mengaku udah bekerja sebagai buruh ombyok di tempat Tanem sejak 3 tahun lalu. Itu pun awalnya Matin juga ditolak oleh Tanem saat awal datang untuk ombyok. Awalnya Matin hanya seorang ibu rumah tangga. Namun karena dia tertarik dengan upah buruh ombyok, akhirnya dia melamar kerja. “Saya belajar ngombyok demngan tetangga. Setelah tahu ombyokan saya bagus, akhirnya diterima kerja,” kenangnya.
Hal yang sama diungkapkan Sumila. Perempuan berusia 53 tahun ini sudah jadi buruh ombyok sejak 2000. Saat itu, dia belajar dari almarhum ibunya yang juga buruh ombyok dan pitil bawang merah. “Jadi buruh ombyok itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah