Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita-Cerita Berakhirnya TV Analog di Kabupaten Nganjuk

Iqbal Syahroni • Senin, 31 Juli 2023 | 23:23 WIB

Photo
Photo

Saluran televisi analog di Kota Angin sudah tidak lagi tayang di Kota Angin. Siaran terakhir yang bisa dinikmati masyarakat adalah hanya dua stasiun televisi swasta. Dua minggu lalu, kedua stasiun televisi itu sudah dihapus dari televisi analog.

“Biasanya jam segini nontonnya Upin dan Ipin,” kata Rini Kurniawati, ibu rumah tangga asal Kelurahan Kapas, Sukomoro pada Selasa (25/7) sekitar pukul 15.30. Sejak adanya migrasi tv analog ke digital, anaknya sudah tidak lagi berada di depan televisi.

Hilangnya tv analog itu akhirnya terjadi di lingkungan kelurahannya. Perempuan 46 tahun itu mengaku, sudah sejak lama dia mendengar informasi bila televisi analog akan dihapus. “Sudah sejak satu tahun lalu,” katanya.

Hilangnya siaran itu tidak bersamaan. Satu per satu siaran televisi yang menjadi andalan masyarakat sudah bermigrasi ke digital. Waktu awal mendapat informasi adanya perpindahan dari analog ke digital, dia diminta untuk membeli set top box (STB) agar dapat menikmati channel dari analog ke digital.

Agar dapat menikmati siaran televisi, ibu rumah tangga itu harus mengeluarkan uang. Karena ada kebutuhan keluarga yang harus diutamakan, dia terpaksa menunda membeli STB. Karena tidak ada STB, dia harus menerima risikonya. Tidak bisa menonton siaran televisi seperti biasanya.
Ketika televisinya dinyalakan, tidak ada tayangan. Hanya bintik hitam dan putih seperti semut. Keadaan itu membuat ruang keluarga yang biasanya berisik dengan suara televisi menjadi senyap. Anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar sempat protes karena tak bisa menonton siaran kesukaannya.

Baca Juga: Inilah Bungai Teratai yang Jadi Simbol Harmoni dan Kasih Sayang

“Awalnya anak rewel dan bertanya dengan nada protes, kenapa kok tidak ada Upin dan Ipin di rumah? Kenapa di tempat tetangga (yang menggunakan STB, Red) masih ada?” ucap Rini mengulang pertanyaan anaknya.

Perempuan berkacamata itu pun harus menjelaskan dengan penuh kesabaran. Dia menceritakan, jika di tempat tetangganya sudah pakai STB dan itu harus beli. Sedangkan di rumahnya sudah tidak bisa karena masih mengandalkan antena.

Bagi Rini, hilangnya tv analog ada sisi baiknya. Kebiasaan anak menonton televisi pada pukul 16.00 sampai maghrib akhirnya berubah. Sekarang, anaknya lebih banyak bermain dengan teman-teman sebayanya di luar.

Mahrunia Elok Nur Sabrina, 10, anaknya mengatakan, sebenarnya ia juga kangen menonton Upin dan Ipin di televisi.Tapi karena siarannya sudah hilang dia lebih memilih main bersama teman-temannya.

Baca Juga: Ini Cara Petani Berambang Nganjuk agar Bibit Tidak Busuk

Ia pun memilih bermain dengan dua kucing milik sahabatnya, Nabila, 11. “Biasanya main kucing hanya sebentar, sekarang bisa lebih lama,” ujarnya bocah yang kini duduk di bangku kelas 3 sembari tertawa.

Enggan Beli STB karena Dianggap Mahal
Migrasi televisi analog ke digital memaksa masyarakat untuk set top box (STB). Tanpa STB, masyarakat tidak bisa mengakses siaran televisi. “alhamdulillah juga belum beli STB, sekarang anak jadi terbiasa tanpa TV,” ujar Rini, ibu dua anak itu.

Ia mengatakan, STB bukan barang prioritas untuk keluarganya. Apalagi harganya terbilang mahal. Dia sempat bertanya ke tetangga yang punya STB, harganya sekarang sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu per box. Tingginya harga STB mengurngkan niatnya untuk membeli.

Tanpa televisi, dia dan suaminya bisa lega karena anak terakhirnya yang kini duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar tidak kecanduan menonton TV. Bagi Rini, anaknya belum begitu membutuhkan tontonan televisi.

“Kalau kebutuhan untuk berita, bisa lihat di HP atau koran. Hiburan semuanya ada di sana. Saya ini juga jarang nonton TV. Kalaupun nonton, itu ya menemani anak saya,” kata perempuan asal Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro itu.

Baca Juga: Alhamdulillah! Uang Ganti Rugi Tol Kediri-Kertosono di Tanjunganom Cair

Mengganti frekuensi analog ke digital menggunakan STB tidak sebanding dengan kepemilikan televisi di masyarakat. Seperti yang dijelaskan Kevin Elsha, 29, karyawan Toko Elektronik di Jalan Mastrip, Kelurahan Ganungkidul, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk yang merasa minat warga untuk membeli STB tidak terlalu tinggi.

“Dulu sampai langka dan harga dinaikkan. Sekarang yang mau beli sudah menurun,” katanya saat dikonfirmasi oleh wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin.

Kevin mengatakan, stok STB di tempatnya habis sejak dua hari yang lalu. Habisnya stok bukan karena banyaknya pembeli. Disebabkan karena persediaan barangnya memasng sedikit.

“Sekali kulakan, beli 30 pasang STB saja,” katanya. Jumlah itu turun drastic ketika awal-awal munculnya informasi pergantian analog ke digital. Saat itu belanja stoknya 100 sampai 200 STB. Semuanya bisa ludes dengan cepat.

Hingga Jumat (28/7) lalu, Kevin belum restock STB. Biasanya dia ambil dari Surabaya. Rencananya, dua-tiga hari ke depan akan kulakan. “Ya karena minat beli turun, toko-toko seperti dirinya juga agak malas membeli dalam jumlah yang besar. Makanya saya juga ambil sedikit saja, ambir sekitar 30-an lah, jumlah itu untuk 1-2 bulan,” pungkas Kevin.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#tv #TV Tabung Hitam Putih #televisi #televisi analog