Tidak ada irigasi yang mengalir di lahan pertanian bawang merah Desa Sukoharjo, Kecamatan Wilangan. Untuk mendapatkan suplai air, petani harus memakai sumur bor yang dipompa menggunakan diesel.
Tidak semua petani punya sumur bor. Agar kalenannya terisi air, petani terpaksa sewa sumur bor ke petani yang punya diesel. “Harus bayar ke pemilik sumur setiap tahun,” kata Suparno, petani bawang merah asal Desa Sukoharjo, Wilangan yang harus membayar sewa Rp 400 ribu tiap tahun.
Bagi petani 43 tahun tersebut, kebutuhan air paling utama untuk perawatan bawang merahnya. Satu sumur bor itu digunakan untuk mengaliri empat lahan pertanian. Dengan kedalaman 50 meter, sumur bor itu akan didiesel dua hari sekali.
Baca Juga: Ini Rencana Dishub Nganjuk untuk Perlintasan Kereta Api Tidak Berpalang Pintu
Munurut Suparno, untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian miliknya seluas 100 meter persegi diperlukan biaya solar sebanyak dua liter. “Biaya solarnya saya tanggung,” katanya.
Dia menjelaskan, kalau mau sirat otomatis air di kalen harus penuh. Dia bersyukur, selama menggunakan sumur bor airnya tidak pernah mampet. Meskipun cuacanya musim kemarau.
Pada saat musim kemarau, petani yang diesel perlu waktu semalaman untuk mengisi kalen. Suparno pun harus datang ke sawahnya saat malam hari. “Malam harus ke sawah, soalnya perlu waktu lama untuk diesel air. Jadi pagi-pagi itu tinggal sirat saja,” terangnya.
Baca Juga: Dinas P3AP2KB Kota Kediri Peringati Hari Anak Nasional, Ini Pesan Wali Kota Kediri
Perlakuan berbeda dilaksanakan saat musim hujan. Air di dalam sumur lebih dangkal. Sehingga dia tidak perlu waktu lama untuk menarik air menggunakan pipa.
“Jika musim hujan, tidak perlu malam hari untuk menarik airnya. Pagi hari menjelang sirat bisa langsung didiesel menggunakan pipa,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah