Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gara-Gara Ini, Petani Berambang di Kecamatan Bagor Bisa Mumet

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 17 Juli 2023 | 20:53 WIB

 

MATUN: Petani berambang di Kecamatan Bagor harus rutin mencabut suket teki.
MATUN: Petani berambang di Kecamatan Bagor harus rutin mencabut suket teki.

Petani berambang di Kecamatan Bagor pusing saat ini. Suket teki atau blembem berkolaborasi dengan enceng-enceng menyerang tanaman berambang yang baru ditanam. Jika tidak segera diatasi, suket teki ini akan mengganggu pertumbuhan berambang.

"Blembem (suket teki, Red) sangat mengganggu berambang yang baru ditanam," ujar Wiji, 63, salah satu petani berambang di Bagor. Untuk membasmi blembem, petani di Bagor tidak menggunakan bahan kimia. Mereka memilih matun atau mencabuti rumput teki itu secara manual. Menurut Wiji, rumput teki lebih susah dicabut dibandingkan rumput yang lain. Tekstur batang dan akarnya lebih kuat di tanah dibanding rumput lainnya. Sehingga butuh tenaga ekstra untuk mencabuti suket teki. "Kalau enceng-enceng kan teksturnya seperti enceng gondok begitu sekali dicabut gampang bersihinnya," ujar Wiji.

Suket teki seringkali tumbuh bersamaan dengan rerumputan yang lain. Sehingga tak hanya satu jenis rumput yang menganggu pertumbuhan bawang merah. Oleh karena itu, meskipun usai didangir, Wiji harus matun lagi untuk mencabut suket teki. Pasalnya suket teki juga mudah tumbuh lagi meskipun sudah dicabuti. Ini yang membuat petani mumet menghadapi serangan suket teki.
Baca Juga: Inilah Sosok Rini Muntamah, Jemaah Haji Asal Berbek yang Meninggal Dunia
"Beda dengan enceng-enceng, sekali dimatun, lalu didangir mereka jarang tumbuh lagi, tapi kalau sudah kena blembem ya harus seminggu sekali matun," papar ibu lima anak ini.

Matun atau mencabuti rumput yang tumbuh di bawang merah sudah menjadi serangkaian perawatan bawang merah. Karena petani bawang merah di Kecamatan Bagor memilih meminimalisir penggunaan obat-obatan kimia untuk tanamannya. Hal itu dilakukan agar bawang merahnya lebih sehat. "Ya memang harus telaten. Kalau dikit-dikit obat nanti malah nggak sehat dan biayanya banyak," terangnya.

Hal yang sama juga dilakukan Plasidi, 57, salah satu petani yang lain. Bawang merah milik Plasidi juga diganggu blembem. Sehingga, dia harus matun berulang kali untuk membasmi suket teki. "Dibantu anak saya, ini saja dari jam 07.00 sampai siang baru dapat separo. Padahal, lahannya hanya 60 Ru," tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#petani #brambang #bagor nganjuk