Kabar duka datang dari Makkah pada Jumat (14/7) lalu. Seorang jemaah haji dari kelompok terbang (kloter) 33 dinyatakan wafat setelah mendapat perawatan dari rumah sakit di Makkah. Dia adalah Rini Muntamah, jemaah lansia yang tutup usia di umur 75 tahun.
OKTAVIA RAHAJENG-NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Rumah yang ditempati Rini Muntamah di RT 02, RW 04, Dusun Sawahan, Desa/Kecamatan Berbek masih diselimuti duka. Rasa bela sungkawa itu datang dari sanak saudara, kerabat, dan tetangganya. Mereka silih berganti mendatangi rumah bercat kuning yang selama ini ditempati nenek 25 cucu tersebut.
Semasa hidupnya, Rini dikenal sebagai sosok yang mandiri. “Ibu melakukan pekerjaan rumah sendirian. Mulai dari menyapu, mencuci piring dan pakaian, memasak, hingga memelihara ayam kampung,” kenang Nyatuju Rahayu, anaknya yang ke enam dengan wajah murung.
Baca Juga: Jemaah Haji Kabupaten Nganjuk Pulang ke Tanah Air pada 18 Juli, Ini yang Tidak Boleh Dibawa
Perempuan berusia 48 tahun itu memiliki banyak sekali kenangan dengan ibunya. Dari almarhum pula, Tutut -sapaan akrab Nyatuju Rahayu- banyak mendapat banyak ilmu tentang agama. Semasa hidup, Rini selalu mengajarkan dan menanamkan kebiasaan baik. Yang masih membekas dan menjadi rutinitas adalah khataman setiap Ahad Pon. Khataman itu untuk anak, cucu dan menantu.
Setiap khataman, semua dapat giliran membaca. Per orang akan dapat jatah beberapa jus saja. “Ibu (Rini, Red)bisa membaca tujuh jus atau lebih. Ini cara ibu menunjukkan rasa cintanya pada Al Quran,” terang Tutut yang kini sudah memiliki dua anak tersebut.
Kesaksian Tutut itu dibenarkan kakaknya, Linik Martin, anak ke-4 dari 8 bersaudara. Sebagai wujud cintanya pada Al Quran, Rini membawa Al Quran miliknya ke tanah suci. Dengan cara itu, dia bisa membacanya setiap waktu.
Baca Juga: Satu Jemaah Haji Kabupaten Nganjuk Masuk RS karena Kelaparan, Bupati Marhaen Protes Keras
“Katanya tidak nyaman kalau tidak pakai Al Quran milik sendiri. Ukuran Al Quran milik Ibu itu ukuran standar,” kata Linik yang kini sudah menginjak usia 53 tahun tersebut. Banyak cerita yang dikenang anak-anaknya. Sosok Rini sangat menginspirasi anak-anaknya. Rini meninggalkan delapan orang anak, 25 cucu, dan 1 cicit.
Karena itulah, kabar duka yang diterima keluarga besarnya pada Jumat (14/7) pukul 07.16 lalu sangat mengejutkan. Apalagi Rini sempat berkomunikasi dengan keluarganya dan menyatakan dirinya sehat. Lebih dari itu, Rini sempat menyampaikan kepada keluarganya jika dirinya sedang persiapan menata koper.
“Katanya koper harus dikumpulkan untuk ditimbang,” terang Budi Khoirul, 59, anak pertama dari Rini Muntamah. Hal itu yang membuat keluarga besarnya merasa kaget. Apalagi keluarga besarnya sudah bersiap menyambut kedatangan Rini dan berencana menggelar khataman pada Ahad Pon (kemarin, Red).
Baca Juga: Kemenag Kota Kediri Siapkan 8 Bus untuk Jemput Jemaah Haji
“Ternyata Ibu wafat di sana,” imbuh Budi kepada wartawan koran ini saat ditemui di rumah duka. Sebagai anak pertama, Budi juga mengaku kerap mendapat banyak ilmu dari Sang Ibu. Baginya, sosok ibunya adalah ahli Tahajud. Setiap hari, Rini bangun pukul 03.00 untuk melaksanakan Tahajud. “Saya kalau tidur di rumah, mau bangun lebih awal pun tetap kalah sama Ibu. Pasti Ibu sudah bangun, selesai wudhu, dan sudah pakai mukena,” ungkap Ayah dari 6 anak itu.
Meski masih dilingkupi rasa kehilangan, anak-anaknya sudah mengikhlaskan kepergian Rini menghadap Sang Khalik. Dia bersyukur ketika di Tanah Suci, Ibunya sudah melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji. “Insya Allah tidak memiliki hutang salat. Karena Ibu saat itu sudah melaksanakan salat Isya. Meninggalnya sebelum waktu Subuh. Kemudian di hari Jumat. Masyaallah, semoga Ibu husnul khatimah, aamiin,” ucap Budi sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Pria kelahiran tahun 1964 itu menjelaskan, selama Ibunya berada di Tanah Suci, mereka sempat video call empat kali. Selebihnya hanya berkomunikasi dengan kenalan di sana yang bisa menghubungkan dengan sang Ibu dan sesekali mengambil foto sang Ibu untuk dibagikan pada keluarga.
Baca Juga: Lima Jemaah Haji Kabupaten Kediri Meninggal Dunia di Mekkah
“Karena Ibu tidak bisa pakai ponsel Android. Ibu bawa ponsel Nokia jadul yang juga digunakan untuk mendengarkan bimbingan doa ketika tawaf dan sa’i oleh ketua kloter,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah