Air menjadi kebutuhan pokok bawang merah. Agar tanaman tetap terawat, petani harus memenuhi kebutuhan tersebut. Ini menjadi tantangan bagi petani berambang di Desa Kutorejo, Kecamatan Bagor. Sebab, irigasi di lahan pertanian mereka hanya dijatah satu minggu sekali.
Para petani harus rela mengantre. Di saat musim kemarau seperti ini, pembagian air dari irigasi sangatlah ketat. Desa Kutorejo, Bagor mendapat giliran setiap Rabu. Agar pembagiannya adil, ada petugas khusus yang membagikan air irigasi dari hulu ke lahan-lahan petani.
“Kalau saat dam dibuka airnya melimpah, petani di sini sudah tahu jadwalnya jadi kalenannya akan dipenuhi air,” tutur Riyono, petani bawang merah asal Desa Kutorejo, Bagor.
Baca Juga: Sinergi untuk Pengembangan Literasi di Madrasah Kota Angin
Tampungan air di kalenan itu tidak bisa bertahan lama. Air di kalenan itu hanya bisa dimanfaatkan dua sampai tiga hari saja. Agar tanaman bawang merah tidak mengering para petani harus mengisi kalenannya untuk sirat setiap hari.
Untuk mengisi lagi kalenan tersebut, petani harus bersiasat. Petani berusia 40 tahun itu mengaku harus ada solusi untuk mencukupi kebutuhan air pada tanaman bawang merah tersebut. Cara yang paling banyak dipakai adalah dengan menggali sumur bor.
Para petani bawang merah harus mengebor tanah di lahan pertaniannya. Agar airnya bisa terus mengalir, maka kedalaman sumur yang digali rata-rata bisa mencapai 40-80 meter. Dengan penggalian yang sangat dalam tersebut, para petani bisa mendapatkan air tanpa batas.
Baca Juga: Kejaksaan Negeri Kabupaten Nganjuk Bekali Hukum pada Penerus Generasi Bangsa
“Memang harus pakai diesel. Mau nggak mau ini solusi agar bawang merah yang ditanam tidak mengering,” imbuh Riyono. Hal yang sama juga dilakukan Plasidi, 57, warga Desa Kutorejo, Kecamatan Bagor. Menurutnya, pembagian air untuk pertanian berambang itu tidak hanya dialami petani di Kutorejo. Semua Desa di Kecamatan Bagor harus bergiliran mendapatkan air tanpa disel.
“Tapi kalau irigasinya mengalir itu kami langsung manfaatkan untuk kebutuhan dua-tiga hari, makanya kadang terlihat di sawah itu airnya sampai banjir-banjir,” tandasnya. Tapi setelah habis, petani menambah airnya dari sumur bor. Masalahnya, tidak semua lahan di desanya ada sumur bornya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah