Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ada Warung Kerupuk Pecel Legendaris di Nganjuk, Ini Lokasinya

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 10 Juli 2023 | 21:38 WIB

 

TRADISIONAL: Penik, pemilik warung kerupuk pecel menggoreng tahu di pawon. Dia ogah pakai elpiji agar kualitas rasa terjaga.
TRADISIONAL: Penik, pemilik warung kerupuk pecel menggoreng tahu di pawon. Dia ogah pakai elpiji agar kualitas rasa terjaga.

Kuliner di Kota Angin bukan saja nasi becek, asem-asem, dan sego jagungnya. Di Desa Sukorejo, Loceret ada kuliner yang ramai dan cukup legendaris. Yaitu makanan tradisional berupa kerupuk pecel Bu Penik yang sudah populer sejak 1998.

Sudah seperempat abad, Penik bergelut dengan sambal pecel, sayur mayur, dan gorengan. Nenek yang kini berusia 63 tahun itu sukses menjual pecel kerupuk di rumahnya Desa Sukorejo, Loceret. Setiap pagi, ketika jarum jam menunjukkan angka 08.30, pelanggan sudah berjejer di depan rumahnya. Mereka antre untuk membeli pecel kerupuk buatannya.

“Saya masaknya pagi-pagi (pukul 05.30, Red),” kata Penik ketika ditemui di rumahnya pada Jumat (7/7). Perempuan yang saat ditemui masih mengenakan daster merah bercorak kembang itu mengatakan, kerupuk pecel yang dia jual merupakan warisan almarhum suaminya, Rantino.

Di dapur tempatnya memasak, ada dua tungku bakar. Api yang sangat besar menyababkan jelaga menempel di dinding dapur hingga menghitam. Meski sudah ada kompor gas, nenek yang rambutnya sudah beruban itu masih mempertahankan kayu bakar untuk memasak.

Seperti Jumat (7/7) pagi lalu, dia menggoreng tahu isi di kuali yang berukuran besar. Karena kerupuk pecel yang dia sajikan laris, nenek lima cucu itu memasak di wadah yang besar. Ada gorengan dan sayur mayur. Bahan yang dia masak sangat banyak.

Untuk sambal pecel, dia bisa mengabiskan 20 kilogram sambal pecel dalam waktu sehari. Bahkan, sayuran yang dia rebus setiap hari bisa sampai satu pikap. Ditambah dengan tepung, jumlahnya mencapai 25 kilogram. Tepung itu untuk bahan aneka gorengan.

“Ada tahu isi, ote-ote, dan tempe,” akunya. Adapun kerupuk yang dia sediakan setiap hari mencapai 25 kilogram. Modal untuk kerupuknya sampai Rp 420 ribu. Sedangkan gorengan yang dia sajikan itu menjadi pelangkap pecel kerupuknya.

Walaupun yang disajikan banyak, dalam waktu lima jam semua masakannya ludes terjual. Biasanya, masakkannya sudah habis pukul 13.30.

SEHAT: Sayuran untuk kerupuk pecel direbus sebelum dihidangkan.
SEHAT: Sayuran untuk kerupuk pecel direbus sebelum dihidangkan.

Omzetnya Ratusan Juta Rupiah Sebulan
Bu Penik tidak pernah menyangka usahanya bisa bertahan selama seperempat abad. Lantaran usahanya digemari pelanggan, dia mulai kewalahan mengerjakannnya sendiri. Ibu tiga anak itu merekrut tenaga kerja untuk membantunya meneruskan usaha yang dirintis bersama almarhum suaminya.

Sekarang, nenek lima cucu itu mengajak anak-anaknya meneruskan usaha kerupuk pecel tersebut. “Anak dan menantu serta saudara ikut bantu kerja di sini. Ini jadi usaha keluarga,” ungkap Penik dengan senyum semringah.

Perempuan yang punya andeng-andeng di bibir atas bagian kiri itu membagi pekerjaan anak-anaknya. Ada yang khusus menggoreng tahu. Membuat sambal kacang. Melayani pelanggan. Hingga menyiapkan kayu bakar serta mencari bahan untuk memasak.

Semua sudah pembagiannya. Kecuali bumbu kacang. Penik meraciknya sendiri. Itu menjadi rahasia kuliner usahanya. “Kalau bumbu harus bikin sendiri. Pakai bawang putih, ada asam jawa juga, dan kulit jeruk nipis. Pokoknya ini resep racikan sendiri,” ucap Penik.

Berkat kegigihan Penik mempertahankan masakan krupuk pecel, dia bisa meraup omzet yang cukup tinggi. Dalam sehari, dia bisa mendapat uang Rp 4 juta hingga Rp 5 juta. Artinya dalam satu bulan mencapai Rp 120 juta sampai Rp 150 juta.

Ia bersyukur, usahanya masih bisa bertahan hingga sekarang. Bahkan sudah dikenal banyak orang. Dari hasil usaha kerupuk pecelnya itu, Penik mengaku, bisa membelikan tanah dan rumah untuk anak-anaknya.

 

RAMAI: Pembeli kerupuk pecel rela mengantre untuk menikmati kuliner legendaris asal Desa Sukorejo.
RAMAI: Pembeli kerupuk pecel rela mengantre untuk menikmati kuliner legendaris asal Desa Sukorejo.

Harga Angkringan, Rasa Restoran
Warga Kota Angin yang merantau ketika mudik, rasanya tidak afdol jika belum menikmati kerupuk pecel Bu Penik. Kenikmatan, kuliner yang satu ini tidak hanya digemari masyarakat Nganjuk. Warung kerupuk pecel ini kerap jadi rujukan para food vlogger dari luar daerah hingga disukai para bupati.

Harga yang murah dan rasa yang lezat membuat kerupuk pecel Bu Penik ini menjadi buruan warga dari luar daerah. Untuk menu komplet, pembeli cukup mengeluarkan Rp 10 ribu saja. Mereka sudah mendapatkan kerupuk pecel, gorengan satu, dan es rujak. Porsinya sudah membuat perut kenyang.

Jika ada yang ingin membeli kerupuk pecel saja, harganya dibanderol Rp 7 ribu. “Selain kerupuk dan pecel ada juga sayurannya,” kata Penik kepada wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk. Sedangkan untuk gorengan, harganya seribu rupiah. Dan es rujak atau kopyor Rp 3 ribu per gelasnya.

 Dengan harga itu, para food vlogger dari luar seperti Surabaya, Malang, Jombang, Madiun, dan Kediri saling bergantian ke tempatnya. Walau bukan warga Nganjuk, para food vlogger itu suka dengan rasa pecelnya. Karena sayurannya juga banyak, kerupuk pecel Bu Penik ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang sedang mengurangi makanan karbo.

Selain para food vlogger, penikmat pecel kerupuk ini adalah bupati. Dulu, pecel kerupuknya kerap didatangi Taufiqurrahman, mantan Bupati Nganjuk. “Dulu Pak Taufik (mantan bupati, Red) pernah habis Rp 2 juta karena semua pembeli dibayari,” kenangnya.

Hingga sekarang, kerupuk pecelnya itu juga masih menjadi kesukaan pejabat. Bupati Marhaen Djumadi pun sering menikmati kerupuk pecel Bu Penik. “Rasanya maknyus,” katanya seperti dilansir website Pemkab Nganjuk.

Lezatnya rasa kerupuk pecel itu kerap menjadi rebutan. Ada yang ogah mengantre karena takut kehabisan. Dari pantauan koran ini, mulai pukul 09.00 hingga pukul 12.00 pembeli terus berdatangan. Mereka memenuhi meja dan kursi warung Bu Penik.

Salah satu pembeli, asal Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk, Yessika, 28, mengaku, sengaja membeli untuk mengenalkan kuliner Nganjuk ke saudaranya dari Magelang. “Ini tadi ada saudara datang, jadi saya belikan kerupuk pecel. Katanya, pengen makan khas Nganjuk,” ujarnya.

Selain itu, Muchsin, 30, pembeli lainnya mengaku, datang ke tempat Bu Penik untuk menikmati kerupuk pecel legendaris. “Nggak afdol kalau belum mampir ke sini, mumpung lagi mudik juga,” tuturnya yang akan merantau ke Bali. Menurutnya yang paling ia sukai adalah bumbu pecelnya. Rasanya manis, pedas, dan gurih. Kalau di tempat lain, dia menyebut cenderung manis.(ica/rq)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#kuliner #legendaris #pecel