Keberadaan Pasar Sukomoro tidak hanya meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, Pemkab Nganjuk juga mendapatkan manfaat dari keberadaan pasar yang terkenal sebagai pasar brambang ini. Setiap tahun, Pasar Sukomoro menjadi salah satu penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Nganjuk.
Setiap pedagang di Pasar Sukomoro wajib membayar retribusi. Uang retribusi tersebut dipungut setiap hari sesuai dengan peraturan daerah (Perda). “Tidak hanya pedagang brambang. Pedagang yang lain di Pasar Sukomoro juga kena retribusi,” ujar Kepala Pasar Sukomoro Agus Mardianto.
Hal ini karena pedagang di Pasar Sukomoro tidak hanya berjualan brambang. Namun, ada juga yang berjualan barang dagangan yang lain. “Semua pedagang di Pasar Sukomoro kami perlakukan sama,” ujar Agus.
Baca Juga: Di Sukomoro, Butuh 34 Orang untuk 'Kalahkan' Seekor Sapi Brahman
Uang retribusi dari pedagang di Pasar Sukomoro ini yang menjadi PAD. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Nganjuk Haris Jatmiko, PAD dari retribusi Pasar Sukomoro mencapai ratusan juta rupiah. “Tahun 2022, PAD dari Pasar Sukomoro sebesar Rp 335 juta,” ujarnya.
Angka tersebut berhasil memenuhi target pendapatan dari retribusi Pasar Sukomoro. Untuk tahun ini, Pasar Sukomoro ditarget bisa menyetor PAD sebesar Rp 385 juta. “Targetnya naik Rp 50 juta,” ungkap Haris.
Kenaikan target pendapatan retribusi tidak hanya terjadi di Pasar Sukomoro saja. Namun, di sejumlah pasar juga mengalami kenaikan target. Sebab, target retribusi dari pasar yang tahun lalu hanya Rp 5,3 miliar menjadi Rp 5,9 miliar di tahun 2023. Itu berarti ada kenaikan Rp 600 juta.
Baca Juga: Satu Jemaah Haji Kabupaten Nganjuk Masuk RS karena Kelaparan, Bupati Marhaen Protes Keras
Khusus untuk kenaikan target retribusi Rp 50 juta di Pasar Sukomoro, Haris optimistis bisa memenuhi target. Karena pandemi Covid-19 sudah berakhir. Tidak ada lagi pembatasan-pembatasan. Sehingga, brambang bisa dikirim ke luar kota. Otomatis, perdagangan menjadi lancar. “Perekonomian juga mulai bangkit,” tandasnya.
Untuk harga brambang, mantan Camat Lengkong ini mengatakan, mengalami penurunan saat ini. Jika sebelumnya harga brambang di kisaran Rp 26 ribu per kilogram, kemarin menjadi Rp 21 ribu-Rp 25 ribu per kilogram. Ini karena pasokan brambang mulai melimpah akibat panen di Kecamatan Sukomoro dan beberapa daerah. “Harga tersebut masih aman untuk petani dan konsumen,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah