MAKKAH, JP Radar Nganjuk - Bupati Marhaen Djumadi protes keras setelah mengetahui jemaah haji Kabupaten Nganjuk kelaparan. Ini karena pengiriman konsumsi untuk kelompok terbang (kloter) 33 Kabupaten Nganjuk terlambat. Akibatnya, jamaah haji kelaparan dan kehausan. "Saya langsung protes keras ke Kemenag Jawa Timur dan maktab. Saya juga terus koordinasi dengan Pak Agus Frihannedy (Petugas Haji Daerah Kabupaten Nganjuk)," tandasnya.
Menurut Kang Marhaen, keterlambatan konsumsi itu karena ada kendala air dan gas dari Masyariq Arab Saudi. Sehingga, jatah sarapan diganti dengan buah pir, jeruk, dan susu. "Kasihan jamaah haji kita yang sudah tua-tua," ujarnya.
Beruntung, setelah Kang Marhaen melancarkan protes keras akhirnya masalah konsumsi teratasi pada pukul 14.30 WIB atau pukul 10.30 waktu Arab Saudi. "Ini saya sudah dapat info dari Pak Agus jika konsumsi sudah dikirim. Semoga masalah konsumsi tidak terjadi lagi," terangnya.
Terpisah, PHD Kabupaten Nganjuk Agus Frihannedy mengatakan, protes Kang Marhaen itu setelah dia melapor. Karena dia tidak tega melihat jamaah haji Kota Angin kelaparan dan kehausan. Apalagi, satu jamaah harus dilarikan ke rumah sakit karena lemas. "Satu jamaah harus dirawat intensif di RS Mina Al Wadi karena kondisinya drop," Agus menjelaskan, saat jemaah haji kloter 33 tiba di Arafah tidak tersedia makan pagi dan makan siang. Ini melengkapi persoalan keterlambatan penjemputan di Muzdalifah pada Rabu (28/6). "Banyak jemaah yang pingsan karena tidak makan pagi dan cuaca sangat panas,” ujarnya.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPRKPP) itu mengatakan, Muzdalifah adalah tempat yang berupa hamparan pasir. Tidak ada atap dan pepohonan. Kemudian, kondisi jemaah yang sampai saat itu belum mengonsumsi apa pun, tenaganya menurun.
Selaku PHD di kloter 33, Agus pun langsung menghubungi ketua sektor 6 Abdul Haris Hasan dan Bupati Marhaen Djumadi. "Semoga konsumsi lancar," harapnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah