Ide cemerlangnya muncul ketika melihat sang ibu suka membuang minyak jelantah. Pembuangan minyak bekas menggoreng itu bisa berdampak pada lingkungan. Tidak ingin masalah itu semakin meluas, Ramadhita Putra Purnomo menciptakan inovasi pengolahannya berbasis teknologi. Karyanya itu mengantarkannya sebagai juara Pemuda Pelopor di Tingkat Nasional mewakili Kabupaten Nganjuk.
Ramadhita Putra Purnomo atau kerap disapa Rama itu tidak pernah menyangka akan mengharumkan tanah kelahirannya. Pria asal Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono itu layak dinobatkan sebagai pemuda pelopor. Dia sukses menciptakan Rumah Inovasi Teknologi (Rumitek) untuk pengolahan minyak jelantah. Hasil olahan minyak dianggap bisa menjaga lingkungan dan bermanfaat untuk masyarakat luas.
Dengan menggunakan Rumitek, minyak jelantah yang kadar asam lemak bebas (ALB) tinggi bisa turun kadar maksimalnya 0,3. “Setelah diuji hasil kadar ALB minyak jelantahnya menjadi 0,2 jadi sudah memenuhi kelayakan (untuk digunakan kembali, Red),” kata pemuda kelahiran 2003 lalu itu.
Untuk menciptakan Rumitek, Rama membutuhkan waktu yang agak panjang. Bebekal sebagai mahasiswa Institute Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dia melakukan penelitian lebih dari satu tahun. Yakni mulai dari 2021 sampai 2023. Hasilnya, bisa mengantarkan dirinya menjadi Pemuda Pelopor Nganjuk.
Olahan minyak jelantah yang diciptakan Rama itu menggunakan alat yang sangat sederhana. Dia hanya membutuhkan dua bahan saja. Ada kulit bawang merah dan penjernih minyak (bleaching earth). Ketiganya punya takaran masing-masing.
Cara mengolahnya, kulit bawang merah harus disangrai lebih dulu. Dia menyebutkan proses sangrai itu disebut sebagai karbonasi. “Dipanasi sampai menyerupai arang,” katanya. Untuk satu liter minyak jelantah, hanya perlu dua sendok kulit bawang yang telah disangrai. Untuk penjernih minyak takarannya cukup 100 gram saja.
Kemudian, pengolahannya cukup sederhana. Kulit bawang yang sudah disangrai itu dicampur dengan minyak jelantah dan bleaching earth. Kemudian dimasak sekitar satu jam. Setelah itu, barulah proses pengendapan. “Pengendapannya butuh waktu 24 jam,” ujar Rama. Setelah diendapkan lama, barulah disaring. Minyak tersebut sudah siap digunakan untuk menggoreng.
Hasil karyanya itu kini mulai diterapkan di masyarakat. Dia memulainya dari lingkungan terdekat di Desa Pandantoyo, Kertosono. Upayanya itu mendapat dukungan dari masyarakat. Saat membuka Rumitek, banyak ibu-ibu yang menyumbangkan minyak jelantah dan klulit bawang merah agar diproses di Rumitek milik Rama.
Dia bersyukur masyarakat di lingkungannya antusias menerima karyanya. Hingga saat ini, Rama terus mempopulerkan idenya agar bisa dimanfaatkan ibu-ibu rumah tangga.
Teknologinya Bisa Mencegah Kelangkaan Migor di Kota Angin
Ramadhita Putra Purnomo sempat tidak percaya diri. Rumitek yang dia ciptakan tidak seperti yang dilakukan peserta dari daerah lain. Menurutnya, temuannya sangat simpel. Bisa dilakukan oleh semua orang dengan mudah. Sedangkan peserta dari daerah lain banyak yang berhasil menciptakan teknologi berupa mesin.
“Ternyata saya dipilih menjadi juara pertama (Pemuda Pelopor, Red),” katanya mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Kimia ITS tersebut. Alasan juri menobatkannya sebagai juara karena karya yang ia ciptakan bisa berdampak langsung kepada masyarakat. Masyarakat bisa merasakan langsung memanfaatkan dari inovasi yang dia ciptakan.
Selain bisa membawa dampak positif bagi lingkungan, alasan Rama menciptakan teknologi tersebut agar masyarakat bisa tergerak memahami perkembangan teknologi. “Setidaknya bisa dimanfaatkan dalam hidup sehari-hari,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Apa yang diraih Rama rupanya tidak lepas dari perjuangannya selama bertahun-tahun. Pemuda 20 tahun itu rupanya sudah lama tertarik di bidang penelitian. Bahkan ketika duduk di bangku SMAN 1 Kertosono, dia sudah terbiasa melakukan penelitian. Kebiasaan baiknya itu telah mengantarnya menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) IV Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 2023. Sehingga saya mendirikan Rumitek yang berada di Desa Pandantoyo, Kertosono,” jelas Rama.
Tidak hanya itu, Rama rupanya sudah banyak mengumpulkan penghargaan hingga tingkat internasional. Diak aktif ikut kompetisi seperti Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Termasuk lomba-lomba yang digelar di tingkat universitas seperti di Telkom University, Universitas Pertamina, hingga Universitas Negeri Semarang.
Aktivitas yang dilakukan Rama rupanya tidak lepas dari sosok inspiratornya BJ Habibie. “Beliau (BJ Habibie, Red) telah menciptakan teknologi berupa pesawat. Ia pun dijuluki sebagai Bapak Teknologi. Saya ingin seperti Pak Habibie,” aku pemuda penggemar bakso itu.
Di tengah kesibukannya kuliah, Rama juga sedang magang di proyek pengerjaan rekayasa material dan teknologi pertahanan di Surabaya. “Proyek itu kerja sama antara Kementerian Pertahanan, perusahaan kelapa sawit, dan kampus saya ITS,” jelasnya
Rama mengatakan, keberhasilannya itu berkat dukungan penuh dari keluarga. Paling utama adalah doa orang tua. Seperti yang disampaikan Wiwin Hardian, ibunya mengaku, bangga kepada putra pertamanya yang berhasil menjadi pemuda pelopor tahun ini.
“Alhamdulillah, sangat bahagia sekali. Memiliki anak berprestasi yang membanggakan orang tua. Rasanya sangat bersyukur. Dan saya akan terus mendukung karya-karya anak saya,” ungkap perempuan 41 tahun itu. Hingga saat ini, Rama masih buka Rumitek untuk mengolah minyak jelantah warga di desanya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah