“Bulan Juni ini, Kecamatan Sukomoro akan panen raya brambang,” ungkap Yatminto, 37, petani brambang asal Desa Pehserut, Kecamatan Sukomoro kemarin. Ini karena mayoritas petani brambang di Sukomoro menanam pada pertengahan April.
Dengan panen raya maka petani brambang di Sukomoro akan berebut buruh panen brambang. Karena petani membutuhkan banyak tenaga untuk memanen brambang di sawah. Kemudian, membawanya ke rumah sebelum dijual ke tengkulak atau pasar.
Untuk tenaga buruh panen, Yatminto mengatakan, butuh banyak orang. Lahan seluas 100 Ru (1 Ru=14 meter persegi) membutuhkan tenaga 8 sampai dengan 10 orang. Upah untuk panen brambang di lahan 100 Ru adalah Rp 1 juta. “Sistem kerjanya borongan untuk tenaga buruh panen. Jadi, bisa dikerjakan 10 orang atau delapan orang,” ujarnya.
Karena panen raya, petani brambang harus mencari butuh panen dari berbagai desa di Kecamatan Sukomoro. Bisa mengambil dari Desa
Ngrami, Bungur, Pehserut, dan Kelurahan Sukomoro. “Mana yang nganggur, ya kami ambil,” ujar bapak tiga anak ini.
Di Kecamatan Sukomoro, rata-rata petani brambang bisa panen tiga kali dalam setahun. Meski usia brambang hanya butuh waktu dua bulan atau 60 hari tetapi tidak bisa dimaksimalkan. Lahan butuh jeda agar hasil maksimal. “Biasanya untuk panen brambang itu bulan Februari, Juni, dan Desember,” ujarnya.
Di masa jeda tanam brambang, Yatminto mengaku menanami lahannya untuk bayam, kedelai, padi, dan kacang tanah.
Hal senada diungkapkan Jarwo, 40, petani brambang asal Sukomoro. Bagi, petani brambang ada istilah untuk tanam brambang. Untuk tanam di bulan Desember disebut labuan atau mangsa rendeng. Kemudian tanam di bulan April disebut tigo atau panen raya. Lalu di bulan Oktober disebut apitan atau masa pembibitan. “Panen raya di Sukomoro ini selalu Juni,” ujarnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah